<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252</id><updated>2012-01-23T13:03:47.201-08:00</updated><title type='text'>Percak Burok oÑ thE weBs</title><subtitle type='html'>Blog ini merupakan sepenggal kenangan daku pada 'kampong halaman'--Pontianak, sebuah kota kota kecil di pesisir barat Borneo/ Kalimantan, dimana para penduduknya akrab berbahasa Melayu (akar dari bahasa Indonesia)--. Cerita masa kecil dan kebiasaan yang dulu jamak terjadi kampong halaman, namun kini mungkin telah menjadi sesuatu yang terpinggirkan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-5070375474215792802</id><published>2009-09-15T20:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T20:31:03.687-07:00</updated><title type='text'>Balek Kampong ber-Lawit Sirimau</title><content type='html'>Balek kampong atau mudik merupakan sebuah budaya yang jamak berlangsung rutin setiap tahun dimana lokasi di Nusantara ini. Fenomena ini biasanya terjadi seiring dengan berlangsungnya hari raya, seperti: lebaran, tahun baru, natal ataupun imlek. Jakarta, Medan, Surabaya dan banyak kota-kota besar lainnya akan mengalami pengurangan penduduk pada masa-masa ini. Kehidupan metropolitan yang biasanya padat menjadi lenggang dalam beberapa saat, dan akan kembali ke keadaan semula beberapa saat setelah para pemudik kembali, bahkan terkadang keadaannya menjadi lebih parah. Banyak di antara pemudik yang kemudian membawa serta sanak familinya untuk bertarung di keganasan kota besar. Urbanisasi, begitu para pakar menyebut kejadian ikutan dari fenomena mudik ini. Jika ditilik sedikit mendalam, fenomena mudik sebenarnya menghadirkan arus balik kapital dari pusat-pusat penyerapan kapital ke daerah-daerah. Padahal biasanya, penghisapan kapital atau diistilahkan juga sebagai capital flight ini berlangsung sangat deras dan menjadikan penumpukan kapital di daerah-daerah yang disebut pusat-pusat pertumbuhan atau penumpukan ekonomi, seperti kota-kota besar. Nah, saat mudik, para pemudik setidaknya akan membelanjakan uang yang mereka peroleh di pedesaan atau daerah, baik untuk membeli makanan atau sekedar memberikan angpao (sanggu) buat sanak keluarga yang datang. Walaupun tak lah mencapai terjadinya kesetimbangan dari yang sudah ditarik, tapi lumayan jua uang ini bisa memunculkan peluang ekonomi baru di desa ataupun daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum ekonomi menyatakan, akibat meningkatnya permintaan pada saat yang bersama, pasti akan diikuti oleh peningkatan harga, karena penyedianya memiliki keterbatasan. Diakibatkan oleh mudik, biasanya akan pula terjadi peningkatan harga atau tarif jasa moda transportasi. Pemerintah kemudian memperkenalkan tuslah sebagai batasan tarif tertinggi agar para penyedia jasa tidak melakukan penghisapan yang berlebihan. Walaupun sudah menyadari kondisi yang demikian akan terjadi, namun diakibatkan ketidakpastian jadwal, aku pun terpaksa menerima harga tiket pesawat yang mungkin melebihi tuslah untuk menunaikan balek kampong di masa lebaran tahun ini. Apa mau dikata, hukum pasar berjalan sangat baik. Penerbangan ke Pontianak di masa lebaran meningkat drastis. Tak hanya yang hendak berlebaran saja yang menyerbu tiket pesawat ke sana. Para perantau Tionghoa pun memanfaatkan masa-masa libur lebaran untuk ikut pula balek kampong. Suasana lebaran yang hangat, pulangnya para karyawanya serta berkurangnya sebagian besar penduduk yang membuat usahanya menjadi kurang menguntungkan merupakan beberapa alasan yang disampaikan karib Tionghoaku, saat kutanya mereka mengapa ikut balek kampong di masa lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa balek kampong selalu mengingatku dengan kebiasaan ber-balek kampong saat dulu masih berkuliah di Bogor di awal hingga pertengahan 1990-an. Saat itu, bagi mahasiswa perantau dari kampongku, hanya yang memiliki orang tua yang sangat berpunya sajalah yang dapat menikmati balek kampong dengan pesawat udara atau terjadi sebuah kejadian luar biasa, seperti yang kualami pada saat ayahku meninggal. Pelaku pasar di penerbangan domestik saat itu masih dibatasi, hanya ada Garuda, Merpati dan Mandala semata. Harga tiket penerbangan pun akhirnya menjadi masih sangat mahal, maklum deregulasi dibidang penerbangan belum terjadi. Sehingga kawula umum, seperti halnya diriku, selalu menggunakan kapal laut untuk menunaikan keinginan balek kampong ataupun kembali lagi ke perantauan di tanah Jawa. Kapal yang paling umum memberikan pelayanan adalah kapal penumpang yang dimiliki oleh Pelni. Selama lima tahun, seingatku setidaknya empat kapal yang pernah melayani perjalananku, diantaranya: Kapal Motor (KM) Lawit, KM Sirimau, KM Bukit Raya, dan KM Leuser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak balek kampong, jalur pelayaran yang kutempuh adalah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta ke Pelabuhan Pontianak, karena pelabuhan pemberangkatannya yang berada paling dekat dengan perantauanku. Namun jika hendak kembali ke perantauan, setidaknya aku memiliki tiga altenatif jalur pelayaran yang semuanya pernah kulalui, yakni: Pelabuhan Pontianak menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Pontianak menuju Pelabuhan Cirebon dan Pelabuhan Pontianak menuju Tanjung Emas di Semarang. Biasanya,. jadwal yang paling mendekati waktu masuk kembali perkuliahanlah yang paling menentukan pilihanku. Toh, waktu tempuh dari Semarang ke Bogor hanyalah tak lebih dari 12 jam dan bis yang mengubungkan kedua kota itu pun tersedia hampir setiap jam.&lt;br /&gt;Waktu tempuh yang biasanya harus dihabiskan di kapal kurang lebih 36-40 jam, jika lancar. Keterlambatan biasanya diakibatkan kelebihan penumpang dari daya angkutnya, yang mengakibatkan kapal tak bisa melaju dengan kecepatan penuh dan bongkar muat menjadi lebih lama. Masa itu, sudah bukan rahasia umum lagi, jika di masa-masa liburan, kerap terjadi kolusi diantara agen penjualan, pihak penyedia jasa (termasuk tentunya para nahkoda) dan syahbandar pelabuhan untuk menjual tiket yang melebihi kapasitas angkut.  Penyebab lain dari keterlambatan adalah tak bersahabatnya cuaca, utamanya di musim angin Barat pada bulan November sampai Januari. Apalah lagi buat diriku yang cukup akrab dengan mabuk laut. Taklah pernah luput antimo dan susu ultra menjadi bekalku sebelum naik kapal. Antimo tentunya untuk meredam mabuk dan susu ultra untuk mengisi perut, karena tak sanggup aku memakan makanan padat pada masa gelombang tinggi, bisa-bisa tiap 10 menit terpaksa harus jackpot atau muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa libur kuliah, mahasiswa merupakan populasi tertinggi dari penumpang kapal itu. Sehingga, waktu 1 hari 2 malam di atas kapal menjadi masa yang menarik sekali. Kapal menjadi titik temu (melting point) dari beberapa teman lama yang terpisah tempat berkuliah. Ruang tidur kelas ekonomi yang mirip bangsal dan kafetaria yang ada di dek tertinggi kapal kerap menjadi tempat diskusi, tukar pengalaman, bermain remibok (sejenis permainan kartu) yang terkadang juga dilengkapi taruhan uang secara sembunyi-sembunyi, medium sakat-menyakat (cela-celaan) bahkan juga ngurat (pendekatan kepada) lawan jenis.  Sore dan pagi hari di masa hari tak berbadai dan hujan, dek kapal menjadi ruang mejeng dari penumpang kapal untuk menikmati matahari terbit dan terbenam. Pun, saat-saat mau merapat atau berangkat dari satu pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, KM Lawit merupakan kapal yang punya banyak cerita dan sejarah. Kapal ini merupakan kapal yang terbanyak mengangkutku untuk balek kampong dan juga kembali ke perantauan. Pernah pula, saat mengunjungi kampung halaman ayahku di Sumatera, kapal inilah yang kutumpang dari Pontianak menuju Pelabuhan Duri di Riau yang memakan perjalanan hingga 5 hari 6 malam pada 1990, sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan menggunakan jalan darat ke Padangsidempuan di Tapanuli Selatan. Lama waktu ini juga merupakan waktu terlama aku yang pernah kuhabiskan di atas kapal laut. Kapal tertua yang melayani pelayaran ke Pontianak ini pernah pula kutumpangi dengan gratis, walaupun terpaksa harus menjadi pencuci piring di kapal selama pelayaran. Memang karena tak beruang dan terbujuk rayu teman-teman dair kampong halaman yang kujumpai di Pelabuhan Tanjung Priok saat mengantar seorang teman dari Bogor. Tak terpikir sebenarnya hal itu kulakukan, namum apian (provokasi) beberapa teman tentang ketidaknyamanan berlebaran di perantauan membuatku nekat mencoba upaya itu. Keraguanku sirna saat seorang teman berteori taklah mungkin penumpang tak bayar akan dilemparkan ke laut atau di hukum berat, jika mengaku tak punya uang dan ingin kembali ke kampung halaman. Apalah lagi, gayaku yang lusuh dan tak membawa bekal selembar pakaian pun dipandang cukup dapat memperkuat skenario itu. Rupanya, pada waktu itu, tidak sendiri aku melakukannya, ada dua teman mahasiswa dari kota lain yang melakukan hal yang sama. Untunglah, ada teman yang berbagi nasib dimaki-maki nahkoda dan juga anak buah kapal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KM Lawit akan sangat membekas di hati masyarakat Kalbar yang pernah menggunakan jasanya. Seorang temanku pernah bercerita, entah ini sebuah rekayasa atau memang kejadian sesungguhnya. Saat ia hendak menjemput seorang adiknya di pelabuhan yang menggunakan KM Sirimau, ia bertanya pada seorang tukang becak yang mangkal di depan pelabuhan tentang kapal apa yang merapat. Cukup terkejut ia, saat dijawab oleh tukang becak itu, yang sedang merapat adalah Lawit Bukit Raya dan Lawit Sirimaunya baru akan mendarat 2 jam lagi. Tampaknya, Lawit bahkan sudah menggantikan dan lebih populer dari istilah kapal motor. Setelah lebih dari 10 tahun tak pernah lagi menggunakan jasanya, karena semakin terjangkaunya tiket pesawat dan keterbatasan waktuku. Terakhir kuingat empat atau lima tahun yang lalu masih kulihat wujudnya, saat menjemput adikku pulang dari tanah rantau. Kini, kerinduan akan dirinya muncul di musim balek kampong ini. Ingin sekali rasanya mengetahui bagaimana kabar kapal itu saat ini. Masihkah ia beroperasi dan masihkan segagah dulu saat membawaku ke perantauan dan balek kampong?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-5070375474215792802?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/5070375474215792802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=5070375474215792802' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/5070375474215792802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/5070375474215792802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2009/09/balek-kampong-ber-lawit-sirimau.html' title='Balek Kampong ber-Lawit Sirimau'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-8499564836585727612</id><published>2009-09-11T00:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T00:56:40.928-07:00</updated><title type='text'>Keriang Bandong</title><content type='html'>Ramadhan sudah memasuki sepertiga akhirnya. Bulan penuh berkah dan rahmat ini perlahan akan segera berganti ke bulan Syawal yang melambangkan kembali pada kesucian hakiki. Kerap diriwayatkan oleh para pensyiar, sepertiga akhir ini sejatinya merupakan waktu di mana berkah dilimpahkan, bahkan di salah satu malam ganjilnya, dikhabarkan merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Masa-masa ini adalah masa yang dinanti oleh banyak orang untuk bertafakur ke hadapan Sang Khaliq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, dulu pada masa kecilku masa ini juga merupakan masa yang kunantikan. Ada sebuah tradisi yang ganjil rasanya, jika tak kami tunaikan di penghujung puasa ini. Tradisi ini sangat erat hubungannya dengan cara menyambut malam lailatul qadar.  Beberapa kelompok masyarakat percaya bahwa agar para malaikat berkenan mencatat amal perbuatan kita di malam itu, maka sebaiknya rumah kita dilengkapi penerangan di sekitar rumah dalam menyambut malam agung itu. Maka tak jarang tradisi memasang penerang pun banyak kita jumpai di penjuru nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampongku tercinta, Pontianak, tradisi serupa lebih dikenal melalui pembuatan dan pemasang keriang bandong di sekitar rumah.  Keriang bandong adalah semacam lampion dengan penerang lilin di dalamnya. Rangkanya berasal dari rautan buluh (bambu) yang dilapisi kertas minyak, baik yang hanya didominasi satu warna ataupun berwarna-warni. Di zamanku, bentuk keriang bandong yang banyak dibuat seingatku berbentuk limas, rumah, mobil sederhana, ikan, pesawat ataupun burung. Kesederhanaan bentuk kurasa menjadikannya penyebab kenapa desain-desain ini yang paling banyak dibuat. Maklum saja, karena yang membuatnya sebagian besar adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar. Aktivitas pembuatannya pun sekedar kegiatan mengisi waktu sembari menanti saat berbuka tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuduga tradisi ini erat pengaruhnya dari tradisi yang dibawa oleh pemukim Cina di kampongku, yang juga mengenal permainan ini sebagai tanglong. Namun, entah dari mana istilah keriang bandong ini berasal. Menurut Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Pontianak H Syafruddin IB (dalam http://efprizan.blogspot.com), ia menerka, “Keriang kan nama binatang yang mengeluarkan bunyi khas di malam hari. Keriang suka dengan cahaya dan datang berbondong-bondong. Mungkin dari situlah namanya diambil, jadi keriang bandong”. Aku sendiri menduga, bungkusnya yang menggunakan kertas minyak itu, membuat permainan ini menyerupai keriang, sejenis kumbang berwarna hijau yang memiliki sayap transparan dan sering mengeluarkan bunyi di malam hari. Serangga yang digolongkan ke dalam ordo Hemiptera dan sub ordo Cicadomorpha ini, dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai tenggoret atau cicada dalam bahasa Inggrisnya. Sementara bandong sendiri mungkin berasal dari kebiasaan orang memasang aksesoris ini di pinggir parit dan menyerupai kapal bandong (klotok) yang sedang tambat (menepi) di pinggir sungai di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa itu, sehabis shalat taraweh, sering kali kami mengarak keriang bandong kami keliling kampung dan beberapa di antaranya ada yang mengadu kekuatan keriang bandongnya. Rusak, patah dan terbakarnya keriang bandong kami adalah resiko yang akan kami peroleh dalam aduan ini. Sembari mencari lawan aduan, biasanya beberapa anak membawa keriang bandong berjalan berarakan. Dalam arak-arakan kami itu, ada sebuah lagu yang khas kami nyanyikan berulang-ulang, yaitu: “Hee...Mantoyo, Mane Musoh, Agogo.” Sehabis arak-arakan, bisanya, kami akan mengembalikan keriang bandong kami ke tempatnya, yakni di pinggir parit yang ada di depan rumah atau di depan pagar masuk rumah kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan ini dapat berlangsung berjam-jam hingga menapaki tengah malam. Akibatnya, saat pulang ke rumah, omelan lah yang akan menanti. Apalah lagi, saat-saat ini adalah juga saat genting bagi para ibu kami. Ritual membuat kue lebaran, pastinya membutuhkan tenaga tambahan. Sudah juga tradisi, jika masa-masa ini para ibu kerap absen di mesjid dalam bertaraweh diakibatkan kesibukan membuat beragam kue, agar marwah keluarga tak turun di hadapan sanak keluarga di hari raya. Nah, anak-anak seperti kami dulu, pasti bermanfaat, dalam menambah tenaga bantuan. Setidaknya untuk mengoleskan kuning telur di atas kue yang akan dipanggang, memarut nanas untuk bahan nastar ataulah mengupas kacang yang akan digoreng kering dan jadi sajian khas lebaran. Di masa itu, ada saja cara yang aku dan teman-teman sebaya buat untuk tetap dapat bermain keriang bandong dan menghindari kewajiban turut membantu membuat kue. Sayangnya, kini tak lagi banyak kulihat anak-anak yang berkeliling kampong membawa keriang bandong. Lampu listrik kelap-kelip menyerupai lampu natal tampaknya di beberapa rumah sudah menggantikan fungsi keriang bandong ini. Namun, keriang bandong kini sudah naik kelas, karena sudah ada yang mulai memperjualbelikannya secara massif dan juga telah difestivalkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-8499564836585727612?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/8499564836585727612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=8499564836585727612' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/8499564836585727612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/8499564836585727612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2009/09/keriang-bandong.html' title='Keriang Bandong'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-9132740747685693277</id><published>2009-07-22T04:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T04:39:10.877-07:00</updated><title type='text'>Gerobak Pasir</title><content type='html'>Perjalananku ke Sipirok kali ini kusempatkan mampir ke sebuah tempat yang memiliki keterkaitan amat erat dengan diriku. Yakni mengunjungi sebuah kuburan tua, yang dugaanku telah berumur lebih dari 500 tahun. Kuburan yang berada di puncak sebuah bukit berjarak 2 km dari Desa Sampean, Sipirok itu adalah kuburan dari Oppu Nihatunggal, yang merupakan satu dari tiga migran Siregar yang merantau dari Lobu Siregar di Kecamatan Muara di pinggir Danau Toba ke Sipirok di Tapanuli sebelah selatan. Jika kulihat tarombo (silsilah keluarga) yang kumiliki, aku adalah keturunan ke-13 dari beliau. Sebagai seorang yang dibesarkan bukan di tanah Batak, pengalaman ini cukup berarti bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja di perantauan yang merupakan tanah asal ayah dan ibuku, memberikan kesempatan untuk memperlancar bahasa Batak (yang masih saja dapat dikategorikan marpasir-pasir) dan memahami kembali adat Batak yang diperkenalkan ayah-ibuku. Kalaulah dulu hal ini hanya menjadi sebatas pengetahuan semata, sekarang mungkin kucoba melihat realitas dan nilai di baliknya. Sewaktu masih menetap di tanah kelahiran dimana tembuni (ari-ari)ku ditanam, Pontianak, tak jarang aku mendapat julukan gerobak pasir atau gerombolan Batak payah diusir. Ah, ada-ada saja julukan itu. Padahal keinginan untuk membangun kampung halamanlah yang menjadikannya pilihanku untuk kembali paska menuntut ilmu di tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Migran Batak tampaknya mulai berdatangan ke Pontianak dan daerah lain di Kalbar pada awal 1900-an. Keterbukaan akses transportasi dan kebutuhan tenaga administrasi penjajah Belanda mungkin menjadi pemicunya. Maklum saja, Tapanuli merupakan salah satu tempat paling awal didirikannya sekolah berkurikulum barat di Nusantara. Hingga akhir penjajahan Belanda tampaknya ada beberapa migran Batak yang punya posisi penting di pemerintahan dan tampaknya sudah pula sampai di daerah perhuluan. Pernah kudengar kabar pada masa itu ada seorang bermarga Siregar yang menjadi Demang di Kapuas Hulu. Berdasarkan data korban kejadian Mandor di Surat Kabar Borneo Shimboen (Banjarmasin) pada 2 Juli 1944, yang kuunduh dari situs Nederlands instituut voor oorlogsdocumentatie, pun terdapat beberapa orang Batak yang menjadi korban dan dikategorikan sebagai  dedengkot gerombolan pemberontakan oleh Angkatan Laut Tentara Pendudukan Jepang, diantaranya: Lumban pea (43 tahun), Panangian (48 tahun) dan istrinya Nurlela (45 tahun), Abdoel Samad (51 tahun), Nazarudin (35 tahun), Tamboenan (29 tahun), dan Nasrun Soetan Pangeran (31 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah perantau Batak di Kalbar, utamanya di Pontianak, hingga akhir 1970-an masihlah terbatas. Kebanyakan masih didominasi pegawai, guru dan militer. Maklum karena masih sedikit, pada masa itu, suasana kekerabatan para perantau Batak cukup erat. Jika lebaran tiba, aku sekeluarga pasti akan bersilaturahmi ke beberapa keluarga Batak yang muslim, seperti opung Siregar mantan Bupati Sanggau di Jalan Budiman (sekarang Jalan Piere Tendean), opung Siregar di sebelah mesjid Jihad, opung Siregar (seorang Patuan/ raja adat dari Sipirok) di Komplek Pemda Kota Baru, opung Siregar di Jalan Sidas, opung Nasution mantan pegawai Dinas Perkebunan di Podomoro, opung Batubara di Gang Batubara (yang nama gangnya diambil dari nama beliau) di Jalan Veteran (sekarang Jalan Johar) dan lainnya. Nah, sementara jika tahun baru tiba, kami akan bertahun baru ke rumah keluarga Batak Nasrani yang merayakannya, seperti: opung Siregar mantan Pelni di Lembah Murai, opung Simanjuntak di Gang Tani (sekarang Jalan Putri Dara Hitam), opung pendeta Silitonga di Karimun dan amatua Siregar di Jalan Veteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya migran Batak di Kalbar terjadi sejak 1980-an, terutama distimulasi oleh pembukaan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh PTP VII (sekarang dilebur ke dalam PTP XIII), dimana perusahaan ini berkantor pusat di Bah Jambi, Sumatera Utara. Banyaklah teknisi perkebunan yang dipindahkan ke Kalbar oleh perusahaan ini dari Sumatera Utara, yang cukup banyak diantara mereka adalah orang Batak. Hal ini didukung pula semakin lancarnya transportasi dari Sumatera-Kalimantan. Kuperkirakan lebih dari 2.000 keluarga perantau bermukim menyebar di sekitar Pontianak. Anggota Saroha, yang merupakan perkumpulan Batak Islam, dugaanku mencapai lebih dari 500 keluarga. Lihat juga keberadaan gereja Batak yang ada. HKBP (Huria Kristen Batak Protestan, gereja Batak terbesar dan mayoritas anggotanya berasal dari sub etnis toba) setahuku punya 3 buah gereja (Kota Baru, Jeruju dan Siantan), GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) memiliki sebuah gereja yang berada di depan Kantor Gubernur Jl. Ahmad Yani, dan GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) memiliki sebuah gereja yang berada di Jl. WR Supratman. Mungkin karena keterbatasanku saja yang belum menjumpai beberapa gereja Batak lainnya, seperti: GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola), HKI (Huria Kristen Indonesia) ataupun GKPPD (Gereja Kristen Protestan Pakpak-Dairi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas kebatakanku taklah pernah kusembunyikan. Margaku pun selalu kububuhkan di belakang namaku. Bahkan di masa SMA, teman-teman pun punya panggilan khas buatku yakni Bang Lae. Baik lelaki ataupun perempuan memanggilku dengan panggilan tersebut, yang mungkin bagi orang Batak dirasakan mengganjal. Lae adalah panggilan yang berlaku hanya buat seorang lelaki pada lelaki lainnya, khususnya yang berhubungan ipar. Aku merasa tumbuh dalam dua kultur yang tak bisa kupisahkan, yakni kultur Batak yang secara genetik dan dalam keluarga diajarkan, serta kultur Melayu yang melingkupi keseharianku dalam pergaulan. Bagiku Melayu taklah terbatas pada hakikat kesukuan (etnicity) semata, namun jauh melampaui itu, yakni peradapan (society). Kemelayuanku, kerelaan menjaga marwah Melayu dan kecintaanku pada tanah Melayu taklah perlu dipertanyakan, walaupun tak ingin pula aku ikut dalam kelaskaran Melayu yang marak paska reformasi bergulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehlah kumodifikasi sedikit sebuah pantun yang diperkenalkan kembali oleh Sutardji Kalsum Bahri, presiden penyair Indonesia, pada sebuah peringatan mengenang Raja Ali Haji --sang pencipta Gurindam Dua Belas-- yang kuhadiri di Jakarta lebih dari 10 tahun lalu, yakni:&lt;br /&gt;"Bukan kampak (versi Bang Tardji: linggis) sembarang kampak... Kampak ada dalam perahu... Bukan Batak (versi Bang Tardji: Bugis) sembarang Batak... Batak sudah menjadi Melayu".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-9132740747685693277?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/9132740747685693277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=9132740747685693277' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/9132740747685693277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/9132740747685693277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2009/07/gerobak-pasir.html' title='Gerobak Pasir'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-1200862510648137191</id><published>2009-07-13T00:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T00:55:53.373-07:00</updated><title type='text'>Sentiong</title><content type='html'>Akhirnya tuntas juga kubaca buku yang telah lama kucari-cari ini. Buku terjemahan yang berhalaman cukup lumayan tebal ini berkali-kali muncul kala sedang mencari infomasi tentang kampung halamanku di mesin pencari google. Buku berjudul asli &lt;em&gt;“Golddiggers, Farmers, and Traders in The Chinesse District of West Kalimantan Indonesia”&lt;/em&gt; yang dikarang oleh Mary Somers Heidhues dan terjemahannya diterbitkan oleh Yayasan Nabil ini melengkapi koleksi referensiku tentang sejarah pemukim Cina di Kalbar. Setelah beberapa tahun yang lalu di sebuah situs kujumpai sebuah disertasi dari Universitas Leiden berjudul Chiness Democracy yang ditulis oleh Yuan Bingling (www.xiguan.net/yuanbingling), yang mengambil pengamatan pada kurun waktu yang berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua refensi ini sangat memberikan gambaran utuh tentang kampung halamanku di era 1700 hingga awal 1900an--kala para migran china di awal-awal bermukim di tanah yang kaya emas, kalimantan--, baik menyangkut pertarungan politik maupun pengusahaan ekonomi. Pembelajaran masa lalu ini menarik sekali untuk diambil hikmahnya. Dimana kerap kali terlihat keinginan dominasi atas penguasaan sumber ekonomi oleh segelintir elit akan dengan mudah mengorbankan rakyat yang tak berdosa. Dan cara-cara kekerasan dengan mempergunakan atribut etnisitas akan dengan mudah memperbesar eskalasi konflik yang sekaligus menutupi kepentingan penguasaan sumber daya. Padahal di ujung cerita, setelah konflik usai ternyata keinginan penguasaan itupun taklah pula berbuah kemakmuran ataulah kejayaan. Sebaliknya luka pada pola relasi antar etnisitas yang ada menjadi semakin melebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemukim Cina menurut amatanku sejatinya telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan Kalimantan Barat. Interaksi mereka dengan penduduk lokal dapatlah dikatakan amat erat. Teknologi pertambangan dan pertanian yang mereka bawa cukup banyak berkontribusi pada praktek yang berlangsung hingga saat ini. Penggunaan air yang dialirkan di alur emas yang ada dan pengaturan bagi air limbah yang dihasilkan dari proses penambangan diperkenalkan oleh para migran yang ulet ini. Demikian pula dengan beberapa peralatan pertanian seperti tajak, mata cangkul yang khas dan peralatan pertanian lainnya. Pun budidaya padi sawah beririgasi, pertanian sayur, lada dan karet tak lepas dari pengaruh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat sketsa kota Pontianak di pertengahan 1800-an, yang menjadi sampul buku terjemahan ini, ingatanku pun melayang pada sebuah nama yakni Sentiong. Nama ini serupa dengan nama lokasi sejenis di Jakarta, yakni Kramat Sentiong, yang juga merupakan sebuah kawasan pekuburan Cina. Mungkin saja beberapa migran awal Cina yang bermukim di Kota Pontianak dan sekitarnya dikuburkan di kawasan pekuburan ini. Sayang untuk membuktikannya tak lah dapat kulakukan. Lokasi ini telah lenyap dimakan peradaban baru. Pembangunan dan modernitas tampaknya tak bersahabat dengan situs-situs tua, yang cenderung dipandang kuno ataupun tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir 1970-an ataupun awal 1980-an lokasi ini masih belum banyak berubah sebagai kawasan pekuburan. Namun tuntutan perkembangan kota akhirnya menggusurnya menjadi kawasan perkantoran dan perumahan pegawai pemerintah. Kini, setelah lebih 25 tahun kemudian, kawasan yang dulu tampak angker itu, telah berubah menjadi kawasan elit Kota Pontianak. Kawasan yang dulu di rencana awalnya, hanya akan dimanfaatkan sebagai kawasan perkantoran, pendidikan dan pemukiman pegawai ini, telah pula disisipi beberapa fasilitas bisnis, seperti ruko, rukan, rumah sakit bahkan mall. Kawasan ini dimasaku SMA, di akhir 80 hingga awal 1990-an, terkenal dengan sebutan LA atau lintas ayani. Sebutan ini mengikuti trend yang sedang marak pada masa di ibukota yang memiliki Lintas Melawai. Pada masaku SMA, jalan ini menjadi tempat nongkrong utama, yang merupakan tujuan utama bagi kami di malam minggu atau sekedar berjalan-jalan sore. Tampaknya, nongkrong di sekitar LA ini sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke mall ataupun café-café yang bertumbuhan. Pun kebiasaan yang ada dizamanku telah pula digerus oleh trend baru yang muncul dikemudian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-1200862510648137191?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/1200862510648137191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=1200862510648137191' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/1200862510648137191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/1200862510648137191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2009/07/sentiong.html' title='Sentiong'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-2407686677369508034</id><published>2009-02-08T23:02:00.001-08:00</published><updated>2009-02-08T23:03:28.753-08:00</updated><title type='text'>Ngaret</title><content type='html'>Libur yang cukup panjang di akhir tahun membuatku leluasa untuk pulang ke kampung halaman di Pontianak.Tak banyak yang berubah memang, namun bagiku ada sebuah sejarah baru yang patut dikenang. Sejarah itu adalah untuk pertama kalinya dilantik sepasangan pemimpin kota yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Uniknya, walaupun dapat dikatakan pasangan incumbent karena walikota terpilih adalah ex wakil walikota pada periode sebelumnya, sedangkan wakil walikota terpilih merupakan seorang yang beretnis Madura. Bagiku ini merupakan pengakuan politis akan eksistensi etnis yang sudah sedari dulu menjadi bagian dari masyarakat Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit menyesal diriku karena tidak dapat hadir dalam acara pelantikan, padahal walaupun sudah selama 3 tahun terakhir berada di perantauan, ternyata aku masih dapat undangan resmi untuk mengikuti acara ini. Jika saja aku datang dua hari lebih awal tentunya bisa kuhadiri acara yang bersejarah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa catatan para peneliti, masyarakat Madura sudah sejak awal abad ke-20 bermigrasi ke Kalimantan Barat. Umumnya mereka bekerja di sektor informal, yang tidak terlalu mempersyaratkan pendidikan tertentu. Mulai dari tukang becak, sopir, pedagang pasar, pengumpul barang bekas, hingga pedagang sayur keliling di pemukiman penduduk, merupakan pekerjaan yang didominasi etnis yang terkenal beretos kerja luar biasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksiku tergolong cukup dekat dengan kelompok etnis ini. Maklum saja, di semua tempatku bermukim sedari kecil, selalu saja berdekatan dengan getho-nya atau kalau orang kampungku bilang lubok-nye pendatang Madura. Sedari diriku lahir hingga akhir sekolah menengah pertama, keluargaku bermukim di Asrama Hidayat, yang tepat bertetangga dengan Gang Candi Agung di Jalan Tani (sekarang lebih dikenal sebagai Jalan Putri Dara Hitam). Setelah itu hingga saat ini, rumah orang tuaku berada di Jalan Danau Sentarum di kawasan Sumur Bor, yang juga telah sejak berhenti operasinya perkebunan karet milik Belanda diawal kemerdekaan menjadi kawasan pemukiman kelompok pendatang Madura dari Bangkalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat remajaku di Sumur Bor ini intensitas pergaulanku dengan masyarakat pendatang dari pulau penghasil garam ini dapat dikatakan sangatlah erat. Wajarlah karena di gangku saat itu hanya dua keluarga saja yang beretnis selain Madura. Walaupun tak fasih melafaskannya, namun dapatlah dikatakan sangat baik aku dalam memahami bahasa etnis ini. Hari-hariku dulu seringkali dihabiskan untuk menemani teman-teman sebaya ngaret (menyabit dengan menggunakan arit) rumput untuk sapi peliharaan keluarga mereka. Saat itu hampir semua keluarga Madura yang bermukim di sekitar rumahku menjadi pemelihara sapi potong, baik sapi yang mereka miliki sendiri maupun sapi titipan orang lain untuk mereka pelihara. Sapi-sapi muda didatangkan dari Jawa atau Madura dengan menggunakan kapal kayu, untuk selanjutnya dipelihara hingga siap potong oleh peternak di sekitar Pontianak. Barulah kemudian sapi-sapi siap potong itu dibawa ke daerah-daerah di pedalaman Kalbar untuk dikonsumsi. Nah, begitulah supply chain dari sapi potong di Kalbar pada masa itu dan posisi penting para peternak sapi di sekitar rumahku dalam supply chain tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan pemandangan yang jamak saat itu melihat rombongan para pengarit rumput mengangkut karung-karung berisi rumput dengan menggunakan sepeda jengki. Istilah yang populer pada waktu itu untuk rombongan ini adalah bongar atau bocah ngaret.&lt;br /&gt;Kelompok bongar ini dulu amat mudah ditemui saat pagi ataupun sore hari, yang merupakan saat-saat mereka berburu rumput, di sekitar kota baru, sumur bor, sepakat hingga ke arah pal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, kuperhatikan tak lagi banyak terlihat. Usaha pemeliharaan sapi tampaknya sudah tak lah terlampau menguntungkan dan tak menarik untuk diusahakan. Selain karena tuntutan pertumbuhan kota, mengakibatkan banyak areal berumput yang telah berubah fungsi menjadi pemukiman. Sehingga mereka kesulitan mencari pasok pakan bagi ternak tersebut.&lt;br /&gt;Kuperhatikan, banyak teman-temanku dulu yang setiap pagi dan sore menghabiskan waktunya buat mengarit, kini tak tampak lagi memelihara sapi. Mereka kini lebih memilih menjadi buruh bangunan atau kerja di sektor informal lainnya. Jadi, bisalah diduga kemudian, jika semakin hari para rombongan bongar akan semakin jarang terlihat penampakannya. Yah, mudah-mudahan transformasi ini menjadi lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-2407686677369508034?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/2407686677369508034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=2407686677369508034' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/2407686677369508034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/2407686677369508034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2009/02/ngaret.html' title='Ngaret'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-4763750969155766730</id><published>2008-12-14T18:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T18:17:09.135-08:00</updated><title type='text'>Gaya Rambut Dwifungsi</title><content type='html'>Agak lebat hujan siang itu melanda Tarutung, tempat kubekerja hampir satu tahun terakhir. Ah, tiba-tiba saja bosan mendatangiku yang sedari pagi hanya terpaku di depan komputer. Tak sengaja terpegang rambutku, sudah cukup panjang rasanya. Maklum saja, sejak terasa cukup banyak rambut yang gugur kala bangun pagi ataupun mandi  beberapa tahun belakangan, lebih senang aku memangkasnya cepak. Hitung-hitung penghematan juga buat beli sampo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berniat mengusir jenuh itu, kusempatkan diri untuk bercukur. Pilihanku jatuh ke sebuah rumah pangkas sederhana yang terletak hanya 10 pintu dari kantorku. Sudah cukup lama rasanya aku tak bercukur di kios cukur sejenis. Akhir-akhir ini aku lebih sering bercukur di salon frenchise di pusat perbelanjaan, seperti: Johni Andrean, Rudi Hadi Suwarno, Lutuye dll. Bukan kenapa, bercukur di  salon jenis franchise ini lebih praktis buatku sekarang. Selain mudah dijumpai di pusat perbelanjaan, layanan dengan sekalian cuci rambut juga mempermudahku karena tak harus bergatal-gatal ria akibat sisa rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan, lay out ruang dengan kaca-kaca lebar di dua sisi, kursi cukur yang diatur manual dan tampang tukang cukur yang klimis, mengingatkanku tempat cukur langganan di masa kecil di kota kelahiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat diajak papaku bercukur dulu merupakan agenda rutin bulanan yang selalu kutunggu dan sekaligus kukhawatir. Kutunggu, karena biasanya sehabis itu, kami pasti mampir ke tempat makan istimewa atau sekurangnya membeli goreng pisang atau roti tawar buat mama dan kakakku yang tidak turut serta. Sementara khawatir, karena pasti hasil pangkasnya tak seperti yang kuharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kios cukur di sekitar Kawasan Kapuas Indah, terminal utama angkutan kota atau oplet di Pontianak pada masa itu, merupakan tempat favorit yang akan kami kunjungi untuk melakukan ritual ini. Kawasan Kapuas Indah pada masa itu luar biasa ramainya. Maklum oplet ke seluruh tujuan akan berhenti di sana, apalah lagi jenis transportasi ini masih menjadi primadona. Selain pada masa itu penyeberangan feri, yang pelabuhannya terletak berdekatan dengan kawasan ini, masih sangat vital menjadi penghubung dua bagian kota yang dibelah Sungai Kapuas. Kapuas Indah Plaza pun masih menjadi pusat perbelanjaan utama di kotaku. Tidak seperti saat ini, yang bak kerakap, hidup segan namun matipun tak jua mau. Kawasan ini kini menjadi kawasan yang cukup kumuh dan mengkhawatirkan keamanannya. Padahal dulu, bayangkan saja, saat pertama kali dibuka, tangga berjalan plaza yang merupakan yang pertama di Kalimantan Barat ini, hanya beroperasi tidak lebih dari 2 minggu. Tangga berjalan ini rusak akibat kelebihan penumpang. Ribuan orang dari penjuru kota dan daerah lain di Kalbar antusias mengunjunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiranku saat bercukur sebenarnya ungkapan yang terlampau optimis. Setiap ritual bercukur tiba, asaku selalu kulambungkan, yakni bisa menentukan sendiri model rambutku. Padahal, asaku itu taklah akan pernah terjadi. Maklum saja karena profesinya sebagai seorang tentara, papaku selalu menentukan jenis pangkas buatku. Modelnya pun selalu tetap, yakni model 3-2-1, maksudnya 3 di bagian muka, 2 di bagian samping dan satu di bagian belakang. Selalu saja proposalku untuk mengganti model lain tak akan digubris papaku. Hal ini tak hanya terjadi pada diriku saja, hampir semua teman-temanku di Tangsi Militer (Asrama Hidayat di Sungai Bangkong) tempatku tinggal mengalami hal serupa. Kami hanya dapat berkeluh kesah bersama-sama dan mengerutu meratapi perlakuan orang tua kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan teman-teman masa kecilku di Tangsi Militer menjuluki model ini sebagai model Dwifungsi, seperti dokrin militer yang populer diindokrinasikan oleh rezim Suharto saat itu. Karena bagian depan bisa dipergunakan sebagai kuas dan bagian belakang bermanfaat untuk jadi parutan. Jika ada teman yang sedang jadi korban model ini, kami akan sama-sama mentertawainya. Sebaliknya, jika sedang menjadi korban, hanya cengiran kesal lah yang bisa diperbuat. Itulah nasib menjadi anak kolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku aku baru terbebas dari model ini saat sudah di bangku SLTA, itupun karena ada teman sekolah yang piawai mencukur. Jadi bisa dimintakan tolong untuk mencukurkan rambutku. Senang sekali rasanya waktu pertama kali bisa terbebas dari model rambut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja terlintas dipikirku, bagaimana nasib anak-anak militer sekarang, apakah mereka masih mengalami nasib yang sama dengan kami dulu. Mudah-mudahan saja tidak dan pendapat ataupun keinginan mereka sudah dapat diakomodasi oleh para orang tua mereka. Masak sih, dwifungsi ABRI saja dapat direposisi, sementara model rambut dwifungsi tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-4763750969155766730?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/4763750969155766730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=4763750969155766730' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/4763750969155766730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/4763750969155766730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2008/12/gaya-rambut-dwifungsi.html' title='Gaya Rambut Dwifungsi'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-8087107443273224588</id><published>2008-10-11T04:56:00.000-07:00</published><updated>2008-10-12T20:04:42.366-07:00</updated><title type='text'>Sekolah Dasar Muhammadiyah Dua di Sentiong</title><content type='html'>Antian panjang memenuhi loket penjualan tiket masuk bioskop Premium di Detos (Depok Town Square) pada hari-hari akhir Ramadan tahun ini. Pemutan perdana film Laskar Pelangi yang diinterpretasikan dari sebuah buku popular yang berjudul sama, merupakan penyebabnya. Padahal, pemutaran perdana ini dilakukan serentak di seluruh Nusantara pada dua jaringan bioskop utama, yakni Premium dan Studio 21. Antusiasme penonton tetap saja sangat luar biasa, entah penggemar sejati Andrea Hirata, sang pengarang buku, atau mereka yang hanya sekedar takut dikatakan kurang gaul, semua tumplek menyambangi bioskop untuk menontonnya. Wajar, jika beberapa waktu kemudian, sebuah media nasional melaporkan dalam kurang dari sebulan, film ini sudah mampu menyerap 1.5 juta penonton. Saat giat-giatnya film ini melakukan promosi beberapa waktu sebelum penanyangan perdana, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Terpengaruh ingin melihat sejauh mana Riri Reza, sang sutradara, menginterpertasikan pengalaman si penulis yang sangat menginspirasi ini, tak mampu membendung keinginanku menontonnya di hari pemutaran perdana itu. Aku dan istriku beruntung karena masih mendapatkan tiket untuk pemutaran yang hanya berselisih 30 menit dari kehadiran kami ke pusat perbelanjaan itu, dan akan berakhir menjelang buka puasa. Lumayan, hitung-hitung ngabuburit lah, menantikan buka puasa tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup terkesan aku dengan para sinease yang bekerja menggarap film ini. Acungan jempol adalah sebuah yang wajar disampaikan pada mereka. Kekhawatiranku, pesan-pesan yang ada dalam buku itu tidak mampu tersampaikan ternyata tak terjadi. Lega rasanya, karena rasa kecewa seperti saat menonton film Gie, yang digarap oleh sutradara yang sama, tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis menonton film ini, aku mengingat kembali sekolah dasarku dulu di kampung halaman. Bukan hanya karena sekolahku pun memiliki nama yang serupa dengan sekolah di film itu, yakni SD Muhammadiyah, namun adanya kesamaan lain yang bisa kutarik, jadi pembelajaran guna memajukan pendidikan di negeri ini. Memang banyak yang tak serupa dengan cerita film ini, tapi setidaknya ada sebuah semangat yang sama yakni semangat para guruku dahulu yang tak kalah hebatnya dengan Ibu &lt;s&gt;Maemonah&lt;/s&gt; Muslihah dan pamannya dalam film itu, dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas pada kami para muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir 1970-an, hampir dapat dikatakan di kampung halamanku, Pontianak, pendidikan dasar sangat didominasi oleh lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan katolik dan kristen. Sekolah-sekolah seperti SD Imanuel, SD Karya Yosef, SD Gembala Baik, SD Budi Baik, SD Susteran dan SD Bruderan menjadi sekolah favorit. Hampir semua perlombaan di tingkat SD pada waktu itu didominasi oleh sekolah-sekolah tersebut. Memang ada beberapa sekolah negeri yang cukup mampu mencuri perhatian, seperti: SD 1 di belakang Gedung Arena Remaja, SD 3 di Gang Padi, SD 26 di Jalan Tamar ataupun SD 29 di Jalan Podomoro. Sementara sekolah-sekolah berbasis yayasan islam agak kurang diminati, banyak keluarga yang berlatar belakang islam yang memilih menyekolahkan anaknya ke persekolahan yang dikelola yayasan non islam, demi untuk memberikan pendidikan yang terbaik buat si anak. Hal ini juga terjadi pada ayahku, yang kurang menanggapi saat ditawari oleh seorang temannya untuk menyekolahku ke SD Muhammadiyah 2, sekolah yang kemudian menjadi tempatku memperoleh pendidikan dasar. Pikiran ayahku berubah ketika di hari-hari terakhir sebelum pendaftaran SD berakhir, ia bertemu dengan almarhum Pak Burhan, kepala sekolah sekolahku pada waktu itu, di mesjid dekat rumah kami. Beliaulah yang mempertebal keyakinan ayahku untuk merelakan aku bersekolah ke SD tersebut, yang baru memiliki 3 angkatan, yang secara kualitas masihlah belum terjamin dan butuh diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun pertama sekolahku yang berlokasi di Sentiong, sebuah kawasan yang belum dikembangkan di kota Pontianak pada waktu itu, hanya memiliki empat lokal kelas. Pak Burhan yang merupakan guru paling senior di sekolah ini, seingatku termasuk kelompok alumni sekolah guru di Sumatera Barat yang dikirim ke Kalimantan untuk mensyiarkan pendidikan dan bertahan menjadi guru di pulau ini hingga akhir hayatnya. Pada masa-masa awal, beliau masih dibantu oleh beberapa guru-guru muda, yang beberapa adalah baru menyelesaikan SPG (sekolah pendidikan guru), SGO (sekolah guru olahraga) ataupun PGA (pendidikan guru agama), dan sembari mengambil kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Tanjungpura, seperti: Pak Waslie Syafi’e, Pak Wahaini, Bu Siti, dan Bu Zulfa. Sebagian besar mereka adalah guru berstatus pegawai negeri yang diperbantukan ke sekolahku. Pada masa ini, uang sekolahnya masih sangat rendah dan beberapa kawan sekelasku menjalani pendidikan secara gratis, karena mereka adalah penghuni Panti Asuhan ‘Ahmad Yani’ yang terletak dekat dengan sekolah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolahku cukup beruntung, karena pada kurun waktu yang bersamaan, kawasan dimana sekolah ini berada mengalami pembangunan. Beberapa fasilitas penting pemerintahan di bangun di sekitarnya, seperti: Mesjid Raya Mujahidin, komplek pemukiman pegawai pemerintah provinsi Kalimantan Barat, dll. Dalam waktu yang cepat, dari kawasan yang dahulu sering diistilahkan ‘tempat jin buang anak’ (wajar karena kawasan ini dahulunya adalah kompleks pekuburan Cina atau &lt;em&gt;Sentiong &lt;/em&gt;dan dari situlah namanya berasal) berubah menjadi kawasan elit. Imbasnya, sekolahku kemudian pun banyak pula memperoleh tambahan murid-murid baru yang pindah dari sekolah lainnya. Semakin banyaknya kelas dan murid yang harus diajar, di masa aku berada di kelas 3 atau 4, sekolahku merekrut beberapa guru tambahan, yang juga seperti sebelumnya masih berstatus mahasiswa, seperti: Pak Suprianto Agus, Pak Hatta, Pak Adnan M. Zain, dan guru senior yang diperbantukan, seperti: Pak Was’ie. Tumpuk pimpinan sekolah juga kemudian berganti, seiring dengan menurunnya kesehatan Pak Burhan, kepada Pak Waslie Syafi’e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para guruku itu memberi pengajaran dengan sepenuh hati mereka pada kami. Padahal, sebagai guru yang juga mahasiswa, tentunya tekanan ekonomi dan pekerjaan amatlah berat mereka rasakan. Di masa itu, hampir semua guruku pergi mengajar dengan menggunakan sepeda. Angkutan kota yang masih jarang tentunya tidak memadai untuk mobilitas mereka pada waktu itu. Jika pun ada yang sudah memiliki sepeda motor, sepeda motor yang mereka gunakan adalah sepeda motor yang sudah berumur. Belum jamak pada masa itu, keberadaan lembaga-lembaga pemberi tambahan belajar pada para siswa, seperti yang saat ini menjamur. Beberapa teman yang kurang bisa mengikuti pembelajaran di kelas, sering diberikan bimbingan pengajaran seusai sekolah oleh para guruku. Tentunya tetap dengan tanpa dipungut biaya. Keinginan memberikan pendidikan terbaik pada kami para muridnya, menjadi motivasi khusus pada kami untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Rasa kekeluargaan di antara kami pun sangat erat. Sering kali dilakukan pertemuan keakraban di rumah kontrakan salah seorang guru kami, yang biasanya sembari menikmati hidangan &lt;em&gt;bubur padas&lt;/em&gt;, makanan khas Melayu Sambas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi menjadi yang terbaik bukanlah mimpi para pengajar semata, para pelajar pun mempunyai keinginan yang serupa. Hingga saat ini masih sering terngiang ditelingaku, sebuah tantangan yang berulang-ulang kali diucapkan oleh Pak Burhan ataupun Pak Waslie saat upacara bendera atau kesempatan lainnya kepada kami para muridnya di generasi awal, “Mari kita tunjukkan bahwa sekolah Muhammadiyah ini adalah sekolah terbaik dan murid-murid di sekolah ini mampu menunjukkan kualitasnya sebagai murid dari sekolah yang terbaik dan menjadi suritauladan bagi orang lain.” Tantangan ini selalu memotivasi para muridnya, untuk merajai perlombaan-perlombaan pendidikan antar sekolah yang kami ikuti. Sudah bukan rahasia umum, jika pada rentang 1980 hingga 1990-an, lomba-lomba bidang studi dan cerdas cermat di tingkat daerah selalu dirajai oleh wakil dari sekolahku. Bahkan pada 1987, sekolahku menjadi juara cerdas cermat nasional yang disiarkan oleh TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu. Pada era itu pun, selalu tertera nama murid dari sekolah ini yang berprestasi memperoleh nilai tertinggi untuk bidang studi tertentu maupun keseluruhan dari evaluasi akhir siswa setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, laiknya sebuah komoditas di pasar, untuk memperoleh kualitas yang bagus dan menjanjikan, pengorbanan atau biaya yang diberikan juga harus setimpal besarnya. Kemudian sekolahku pun mulai berubah menjadi sekolah bagi kelompok elit semata. Uang sekolah dan pendaftaran melambung tinggi, menjadi penapis awal bagi siapa yang berhak memperoleh jasa pendidikan di sekolah tersebut. Belum lagi pembebanan kurikulum yang berat dan keinginan mempertahankan image-nya, membuat sekolah itu tampak seperti mesin yang bekerja terus di waktu produksinya. Pagi hingga siang untuk pengajaran biasa dan sore hingga malam untuk pengajaran tambahan (&lt;em&gt;hmmm.... untunglah aku tidak berada di generasi itu, kalo tidak tentunya kehidupan menjadi anak kampongku pun tidaklah banyak..&lt;/em&gt;). Pun, pembangunan infrastruktur sekolah mulai pula dibangun perlahan-lahan, hingga menjadi teramat megah dan terkesan tak ramah lagi akhir 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dengan hadirnya beberapa sekolah waralaba nasional, seperti: Al Azhar, ataupun sekolah berkurikulum internasional, seperti: Bina Mulia dan Tunas Bangsa, kabarnya sekolahku berangsur-angsur menurun peminatnya. Sekolah-sekolah itu hadir dengan menawarkan fasilitas yang jauh lebih baik dan adopsi kurikulum internasional yang lebih menjanjikan. Nama besar dan prestasi hebat di masa lalu sekolahku, rupanya tak mampu menjadi menambat hati para orang tua murid untuk menjadikannya pilihan utama buat si anak. Hematku, kenapa tidak kembali lagi ke basis awal di masa awal berdirinya, yang dengan segala keterbatasan mampu menjadi lembaga pendidikan terbaik, dimana modal utamanya adalah kesadaran bersama untuk menjadi yang terbaik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-8087107443273224588?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/8087107443273224588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=8087107443273224588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/8087107443273224588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/8087107443273224588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2008/10/sekolah-dasar-muhammadiyah-dua-di.html' title='Sekolah Dasar Muhammadiyah Dua di Sentiong'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-2281361081724281437</id><published>2008-04-24T06:42:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T07:07:29.523-07:00</updated><title type='text'>Cik Cik Periok</title><content type='html'>&lt;em&gt;Cik cik periok belanga sumbing dari Jawe&lt;br /&gt;Datang nek kecibong bawa piting dua ekok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak cak bom dalam bilanga idung picak gigi rongak&lt;br /&gt;Siape ketawa dolo dipancung raja tunggak&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bait nyanyian tradisional yang didendangkan anakku beberapa waktu yang lalu saat kutelpon dia. Keterpisahan tinggal aku dan dia terkadang mengalirkan rindu pada diriku, pun kuyakin pada dirinya. Walaupun tak setara dengan perjumpaan dengan dia, bertelepon dengannya terkadang cukuplah menjadi penentram hati, yang juga sekaligus menambah rasa rinduku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu rakyat (&lt;em&gt;folk song&lt;/em&gt;) khas Kalimantan Barat itu dinyanyikannya, karena beberapa waktu belakangan dia sedang mengikuti kursus menari. Dan tari yang dipraktekannya berlagu latar nyanyian tersebut. Rasanya tak sabar aku melihat anakku ini menari dihadapanku. Aku sudah kehilangan satu kesempatan melihatnya menyanyi ’layang-layang’ di sebuah mal di Pontianak beberapa bulan yang lalu. Keberaniannya tampil di publik sangat mengagumkanku, jika mengingat dia dulu cukup pemalu sewaktu baru berusia sangat belia. Kuacungkan dua jempol pada sekolahnya yang mampu menghadirkan rasa percaya diri padanya. Kalau kubandingkan dengan diriku dulu, tentunya jauh sekali. Hingga sekolah menengah atas, tak lah berani aku maju di depan kelas. Lututku rasanya lemas, badanku kaku, mulutku serasa terkunci dan perut terasa mual. Mungkin orang tak akan percaya dengan hal ini. Kini, rasa demam panggung itu sudah berhasil ku atasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang nyanyian itu, aku teringat sebuah diskusi kecil dengan beberapa orang teman di Yogyakarta pada pertengahan 90-an. Saat itu, seingatku ada sebuah lokakarya pembangunan Kalbar yang diselenggarakan Forum Paska Sarjana KPMKB (Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat), yang pada masa itu dikomandani Rektor Universitas Tanjungpura saat ini, DR. Khairil Effendi (Bang Aye). Diskusi kecil itu dilakukan disela-sela acara tersebut. Dalam diskusi ini, ada seorang teman (yang kalo tidak salah sedang mengambil program paska di UGM dan berasal dari Putussibau, hanya yang pasti kuterlupa namanya) yang melemparkan tesis nyanyian tersebut bukanlah hanya sekedar rangkaian kata-kata semata. Namun merupakan nyanyian yang bermakna ramalan dari nenek moyang masyarakat Kalbar menyangkut kondisi masyarakat Kalbar pada suatu masa. Aku dan beberapa teman yang mengikuti diskusi swasta itu cukup tercengang dan tersentak dengan tesisnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pada bait pertama menggambarkan pada suatu masa tersebut akan datang banyak orang yang termarginalkan (orang-orang kalah) di Jawa ke Kalbar (&lt;em&gt;Cik cik periok belanga sumbing dari Jawe&lt;/em&gt;) dan akan terjadi pengambilan sumber daya alam secara besar-besaran (&lt;em&gt;Datang nek kecibong bawa piting dua ekok&lt;/em&gt;). Sementara pada bait kedua menggambarkan siapa yang menentang akan dilakukan penekanan (&lt;em&gt;Cak cak bom dalam bilanga idung picak gigi rongak&lt;/em&gt;) dan yang berani protes akan dilakukan pembinasaan oleh penguasa yang lalim (&lt;em&gt;Siape ketawa dolo dipancung raja tunggak&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan beberapa teman-teman yang masih menuntut ilmu di beberapa perguruan tinggi di Jawa waktu itu, langsung mencoba melihat realita yang terjadi pada saat itu. Rasanya, kondisi tersebut cukup mengena dengan kondisi saat itu, dimana Orde Baru sedang di masa kejayaannya, transmigrasi (yang hampir sebagian besar dari Jawa) sedang galak-galaknya dilakukan, HPH sedang leluasa melakukan perusakan hutan di Kalbar, trawl sedang hebat-hebatnya menggusuri daerah tangkap nelayan tradisional dan pendekatan keamanan menjadi senjata handal meredam kelompok pro demokrasi. Betul, pada masa itu, Kalbar sedang menjadi etalase paling berhasil dari rezim pada masa itu. Masyarakat Kalbar hanya menjadi penonton dari segenap perusakan dan ketidakadilan yang menimpa dirinya dan generasi penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, cukup berhasil rasanya, provokasi yang disampaikan teman ini. Diskusi swasta ini kurasakan jauh lebih bernilai dibandingkan diskusi resmi yang dilakukan, yang hanya menampilkan segepok rencana-rencana dan teori-teori yang jauh dari realita dan kebutuhan. Kini, pertanyaanku apakah ramalan dari nyanyian ini sudah berhenti pada dengan berakhirnya rezim Orde Baru, ataukah masih berlanjut? Atau mungkin ada cerita lisan (&lt;em&gt;folk story&lt;/em&gt;) dan nyanyian rakyat (&lt;em&gt;folk song&lt;/em&gt;) lain yang menggambarkan kondisi Kalbar saat ini dan masa yang akan datang?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-2281361081724281437?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/2281361081724281437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=2281361081724281437' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/2281361081724281437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/2281361081724281437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2008/04/cik-cik-periok.html' title='Cik Cik Periok'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-4194964382196033703</id><published>2008-03-30T00:24:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T18:47:10.127-08:00</updated><title type='text'>Mbelet</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R-9B5BsvpXI/AAAAAAAAACo/XyVzL5ZTs_0/s1600-h/silindung_mozaik08.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183434144091186546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 641px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px; TEXT-ALIGN: center" height="134" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R-9B5BsvpXI/AAAAAAAAACo/XyVzL5ZTs_0/s400/silindung_mozaik08.jpg" width="462" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada awal April mendatang, basis penugasanku akan berpindah dari Medan ke Tarutung, sebuah kota cantik di Tapanuli. Untuk hampir selama hampir tiga bulan terakhir, aku berkantor di Medan dengan intensitas perjalanan yang cukup tinggi ke Tapanuli. Cukup melelahkan memang. Pilihan pindah basis akan sangat membantuku mengurangi waktu perjalanan. Maklum lah, medan perjalanan di sini sangat berat bagiku, yang dibesarkan dan lebih akrab dengan alam di pesisir barat Kalimantan yang cenderung lebih datar. Sudah beberapa kali terlampaui ‘boiling point’ perutku, yang terkadang amat menganggu perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R-9BrBsvpWI/AAAAAAAAACg/2cVahUP3czs/s1600-h/silindung_mozaik08.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kantorku di Medan terletak sangat strategis, karena kesangatstrategisnya ini, terkadang sangat banyak keistimewaan yang diperoleh. Jika di mana-mana di Sumatera bagian Utara mengalami krisis kelistrikan dan di mana-mana di Kota Medan mengalami krisis penyediaan air bersih, kantorku dan para tetangganya tak sedikitpun mengalaminya. Tak adil rasanya.Pertama kali berkeliling di sekitar lingkungan kantorku, muncul pertanyaan di benakku, apa gerangan kerja beberapa tetangga yang ada di sekitar kantorku itu. Rumah-rumah mereka berukuran istana dan tanpa mempertimbangkan rasio penghuni, dengan pagar menjangkau langit dan berkamera di beberapa sudut rumah. Gilanya lagi, beberapa kendaraan ‘super mewah’ keluar masuk ke rumah-rumah tersebut. Ini Medan Bung! Bah, biarlah, suka-suka mereka saja memamerkan kemewahan. Toh, kalo kecemburuan semakin meruncing, mereka juga yang akan kena dampaknya kan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada sebuah tempat di dekat kantorku yang amat menarik perhatianku, yakni tempat yang di sebut warkop harapan. Beragam makanan di jual di warung-warung kecil yang tumbuh bertautan di pinggir jalan. Jadi, jangan salah kaprah dengan penggunaan warkop, yang lebih kerap digunakan untuk warung yang menjual kopi dan teh semata. Hebatnya lagi warkop ini beroperasi 24 jam. Bagiku sangat membantu saat terpaksa harus berlembur ria menggejar tenggat kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di siang hari, di beberapa sudut tempat ini dapat dengan mudah kita jumpai para pelajar yang membolos dari pelajaran di sekolahnya. Ah, ingatanku kembali mengenang masa di bangku SMA di akhir 80-an. Membolos atau istilah kampungku dulu &lt;em&gt;mbelet&lt;/em&gt;, merupakan sebuah kenakalan jamak dalam menunjukkan eksistensi diriku dan teman-temanku. Walaupun tak sering kali kami lakukan, tapi &lt;em&gt;mbelet &lt;/em&gt;menjadi selingan membunuh kejenuhan ketidakkreatifan guru-guru kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selain bersembunyi di rumah teman yang orang tuanya sedang tak berada di rumah, ada tempat favorit lain yang sering kami jadikan tempat &lt;em&gt;mbelet&lt;/em&gt;, yakni kantin Bu Juju, yang ada di depan SMP 3 di Jalan Kalimantan. Dulu kantin ini masihlah kantin yang sangat sederhana dan hanya buka saat jam sekolah istirahat. Tempatnya cukup terlindung dan pengelola kantin tak pernah hirau dengan kelakuan kami. Bukan hanya teman-teman sekolahku di SMA 1 saja yang menjadikannya tempat &lt;em&gt;mbelet&lt;/em&gt;, kerap kali di tempat ini kujumpai teman-teman dari sekolah lain, seperti: SMA 3, SMA 8 (sekarang SMUN 7) dan SMTI. Tak heran jika ada gelar istimewa yang kami berikan pada kantin ini, yakni SMA 9.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kini, kantin ini sudah menjadi sangat populer di sebagian orang Pontianak. Jam operasinya pun sudah lebih panjang. Makanan yang dijual tak lagi hanya bakwan (yang dulu merupakan makanan favorit kantin ini) dan sudah amat beragam. Iklan promosi beragam produk sudah mewarnai pojok-pojok kantin, bahkan beberapa &lt;em&gt;even organizer &lt;/em&gt;sering menjadikannya tempat penjualan tiket pertunjukan. Banyak pegawai, mahasiswa dan ibu-ibu yang menunggu anaknya bubaran sekolah yang kini menjadikannya titik bertemu menghabiskan waktu. Mungkin sambil mengenang masa lalu mereka dulu waktu suka &lt;em&gt;mbelet &lt;/em&gt;di kantin ini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-4194964382196033703?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/4194964382196033703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=4194964382196033703' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/4194964382196033703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/4194964382196033703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2008/03/mbelet.html' title='Mbelet'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R-9B5BsvpXI/AAAAAAAAACo/XyVzL5ZTs_0/s72-c/silindung_mozaik08.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-8695810116708420719</id><published>2008-02-08T02:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T18:47:10.381-08:00</updated><title type='text'>Maen Kelayang</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R6wuc-rZPqI/AAAAAAAAABw/IS-lMrmuCv0/s1600-h/1949_3.+Inf.+IX+Detachement+Singkawang,+West-Borneo1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164553948083338914" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R6wuc-rZPqI/AAAAAAAAABw/IS-lMrmuCv0/s200/1949_3.+Inf.+IX+Detachement+Singkawang,+West-Borneo1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak pertengahan awal tahun ini, aku kembali melanjutkan perantauan. Setelah hampir 3 (tiga) tahun bermukim di Jakarta, tempat rantauku kali ini adalah Sumatera Utara. Walaupun memang secara genetik, daerah ini merupakan daerah asal kedua orang tuaku, namun baru kali inilah aku harus bermukim lama di daerah ini, setidaknya untuk satu tahun ke depan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di hari-hari awal perantauanku, karena masih malas (belum tergerak) untuk bersilaturahmi pada para keluarga orang tuaku. Pun, masih belum pula tertarik mengeksplorasi sudut-sudut Kota Medan, kuhabiskan saja waktu menonton beberapa film bajakan produksi Glodok yang memang kupersiapkan menjadi antisipator pembunuh kejenuhan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dari tiga film yang kutonton, salah satu film yang menarik hatiku adalah sebuah film berjudul &lt;em&gt;&lt;strong&gt;The Kite Runner&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Sebuah film menarik yang berdasarkan sebuah novel dari seorang penulis Afganistan, Khaled Hosseini. Inti cerita film ini adalah persahabatan dua anak manusia yang tak hilang dimakan waktu, jarak, kekerasan akibat perang dan pilihan kehidupan. Tak elok rasanya menceritakan isi film ini, karena hanyalah ¾ film yang dapat kutonton. Sisanya, rusak mungkin akibat &lt;em&gt;burning&lt;/em&gt; yang tak sempurna atau kerusakan trek pada cakram DVD-nya. Kesal rasanya, namun dimaklumi sajalah, inilah salah satu resiko membeli film bajakan. Kilasan cerita film ini dapat kiranya dicari melalui Google (dimana salah satu hasil pencariannya: &lt;a href="http://www.bamboozled.org/article/368/kite_runner"&gt;http://www.bamboozled.org/article/368/kite_runner&lt;/a&gt;). &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Film ini mengembalikan memoriku kembali ke masa kecil, saat masih menjadi penghuni sebuah komplek tentara Asrama Hidayat di Sungai Bangkok, Pontianak. Bermain &lt;strong&gt;&lt;em&gt;kelayang&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (dalam bahasa Indonesia layang-layang atau kelayangan) adalah salah satu permainan favoritku dan teman sebayaku. Walaupun tak pintar memainkan kelayang, mengejar kelayang putus merupakan suatu kegemaranku. Berkejaran di sela-sela barak, dapur umum, WC umum dan &lt;em&gt;jeding&lt;/em&gt; (bak penyimpanan air dari semen) serta lapangan, menjadi jamak saat aku dulu berpartisipasi dalam ritual kejar kelayang. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Saat kukenang-kenang permainan kelayang. Muncul kembali lagi beberapa istilah khas permainan ini. Setidaknya, ada lima belas istilah yang muncul dan kucoba mengingat kembali arti atau makna istilah-istilah itu. Ah, mungkin saja ada yang tak pas, sudah setidaknya 25 tahun berlalu. Maklumi saja ya. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Anjung&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; : Merupakan langkah persiapan melayangkan kelayang ke angkasa. Saat pemain (pengemudi) kelayang bersiap untuk menaikkan kelayang, biasanya akan meminta seorang teman untuk memegangkan kelayangnya dan maju beberapa langkah. Selanjutnya, sang pemain akan menarik layangan itu dan mengendalikannya agar naik ke angkasa. Aktivitas membantu naiknya layangan ini biasanya disebut meng-anjung-kan layangan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saok &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Kegiatan mencoba mendapatkan kelayang yang putus dengan menangkapnya di udara. Biasanya kelayang yang berperan khusus untuk kegiatan menyaok kelayang disebut penyaok. Untuk mempermudah menyaok, tak jarang kelayang berjenis penyaok akan menambahkan kawat atau diikatkan lidi pada tali kelayangnya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gelondong &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Tempat menyimpan benang (tali) kelayang. Biasanya bagi para profesional pemain kelayang, gelondong ini terbuat dari kayu berdiameter kira-kira 20 cm dengan bagian tengah yang dibolongi ataupun pipa paralon yang dibakar kedua ujungnya dan tak jarang dilengkapi sistem penggulung benang yang canggih. Saat kukecil dulu, aku dan kawan-kawanku lebih sering menggunakan kaleng bekas sebagai gelondong.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tali terajuk &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Tali yang menghubungkan bagian tengah dan bagian bawah kelayang. Dari tali inilah baru kemudian kelayang dihubungkan dengan benang kelayang yang berasal dari gelondong.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Rambuk : &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Ekor yang diberikan ke layangan untuk memperindah tampilan layangan. Ada yang membuatnya dari kertas berwarna-warni, namun tak jarang pula yang menggunakan plastik isi kaset video sebagai rambuk.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Cap &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Tulisan atau motif pada layangan. Tak jarang motif tertentu menjadi milik sekelompok pemain kelayang tertentu pula.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gelasan &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Jenis benang layangan yang dilapisi oleh unsur gelas. Ada dua jenis gelasan yang biasa dipergunakan, yakni gelasan mambo (dari benang sejenis benang jahit namun lebih tebal) dan gelasan plastik (dari benang sejenis nilon). Sudah merupakan hal yang jamak, jika campuran pembuatan gelasan menjadi rahasia pembuatnya. Walaupun bahan pembuatnya merupakan campuran dari bahan-bahan umum, seperti: bubuk kaca yang telah ditumbuk, bubuk &lt;em&gt;canai &lt;/em&gt;(sejenis batuan granit), pewarna kain, dan lem kayu.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Senget &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Gerakan kelayang yang gerakannya tidak seimbang, biasanya lebih miring ke kiri atau ke kanan. Untuk mengobati senget ini, biasanya sering diikatkan rumput pada bagian yang kanan atau kiri kelayang, yang bertujuan memperbaiki keseimbangan kelayang.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gedek &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Gerakan kelayang yang seimbang, namun bergetar menahan angin. Biasanya untuk memperbaikinya, dilakukan perubahan ukuran tali terajuk.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Timpa’ &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Adu kelayang yang terbang di udara.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hambur &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Teknik bermain kelayang dengan mengulurkan benang kelayang, biasanya tujuannya agar tali layangan menjadi lebih kendur&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sentak &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Teknik bermain kelayang dengan menarik benang kelayang secara mengejutkan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Embut &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Teknik bermain kelayang dengan menarik benang kelayang dengan secepat-cepatnya&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Belet &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Teknik bermain kelayang dengan berusaha membelitkan benang kelayang kita pada benang kelayang lawan saat sedang timpa’ ataupun pada kelayang yang sedang putus agar kelayang itu dapat diambil pada saat menyaok.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sebe (cebe) &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Sobek pada bagian kertas kelayang. Agar bisa tetap dimainkan, bagian sobek ini akan ditambal kembali. Nasi biasanya dipergunakan sebagai lem pada kondisi darurat.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Putus genting &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Putusnya kelayang bukan diakibatkan aktivitas timpa’, melainkan akibat lain, seperti rapuhnya benang atau benang layangan terkena seng rumah. Biasanya, kelayang yang putus genting dapat diminta kembali oleh pemiliknya. Sementara kelayang yang putus akibat timpa’ akan diperebutkan, baik oleh kelayang lainnya dengan cara menyaoknya maupun para pengejar kelayang. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pokok tali&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: Saat timpa’ ataupun secara tidak sengaja, kejadian dimana kelayang putus karena tidak terkena bagian gelasan, namun pada bagian benang biasa.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gong-gong :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Kondisi dimana kelayang yang putus tersangkut pada kelayang lawannya timpa’ ataupun kelayang penyaok yang mencoba menyaoknya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-8695810116708420719?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/8695810116708420719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=8695810116708420719' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/8695810116708420719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/8695810116708420719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2008/02/maen-kelayang.html' title='Maen Kelayang'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Clz8SN2ZOu0/R6wuc-rZPqI/AAAAAAAAABw/IS-lMrmuCv0/s72-c/1949_3.+Inf.+IX+Detachement+Singkawang,+West-Borneo1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-4755784295142739117</id><published>2007-10-18T02:17:00.000-07:00</published><updated>2007-10-18T02:22:06.599-07:00</updated><title type='text'>Betarek</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Di awal puasa yang lalu, kusempatkan diri pulang kembali ke kampong halaman, bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Kepulangan ini kuniatkan menjadi pengganti ketidak pulanganku di saat Idhul Fitri. Tiket yang harganya melambung selangit serta keinginan istriku untuk berlebaran di Jakarta merupakan salah dua penyebab ketidakpulanganku berlebaran tahun ini. Walaupun rindu juga rasanya berlebaran di kampong halaman. Tahun ini akan menjadi tahun kedua berada di rantau orang. Mungkin tahun yang akan datang Yang Maha Kuasa melapangkan rejekiku dan memberikan kesempatan berlebaran kembali di kota tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melintas di depan Mesjid Mujahidin, kuamati sekilas pelaksanaan rehabilitasi mesjid yang kalau tak salahku didesain oleh Ir. Said Djafar dan diresmikan bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) pada tahun 1980-an. Walaupun belum selesai, sudah mulai tampak perkembangan rehabilitasinya. Kubah baru mesjid ini secara khusus dipesan di Yogyakarta dan harganya pun tergolong fantastis menembus harga milyaran rupiah. Cerita ini kuperoleh seorang kakak kelasku sewaktu SMA dahulu, yang ditunjuk menjadi arsitek rehabilitasi mesjid ini, saat kami berjumpa di Bandara Adisucipto Yogyakarta satu bulan sebelumnya. Mudahan-mudahan saja, rehabilitasi yang cukup mahal ini dapat bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat halaman luas yang dimiliki mesjid ini, satu kenangan yang tiba-tiba saja muncul di benakku adalah &lt;em&gt;betarek &lt;/em&gt;atau balapan sepeda. Dulu, di pertengahan 1980-an, areal lapangan mesjid ini pernah digelar balapan sepeda BMX yang diikuti oleh anak-anak SD dan SMP. Sebelum kemudian dipindahkan ke areal Stadion Sultan Abdurrahman. Setiap sore banyak anak-anak, tak padang suku dan agama, dari penjuru kota yang bermain sepeda, &lt;em&gt;betarek &lt;/em&gt;ataupun hanya sekedar menonton orang lain &lt;em&gt;betarek &lt;/em&gt;di halaman mesjid ini. Selain &lt;em&gt;betarek &lt;/em&gt;berkeliling lintasan yang ada di halaman mesjid, sering pula diselingi unjuk ketangkasan, seperti: &lt;em&gt;standing &lt;/em&gt;(bersepeda dengan roda depan diangkat), &lt;em&gt;jumping &lt;/em&gt;(melayangkan sepeda dengan bantuan undakan miring) ataupun angkat dua ban melewati orang yang berbaring, serta trik-trik bersepeda lainnya mengikuti film BMX-Bandit yang populer pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa itu, sepeda merupakan kendaraan utama bagi anak SD dan SMP. Masihlah amat jarang melihat anak-anak SD ataupun SMP berkendaraan motor. Bahkan di sekolahku, di SMP Negeri 1 Pontianak, ada aturan larangan bagi muridnya untuk membawa motor ke sekolahan. Aturan demikian ini tampaknya sudah tak berlaku lagi saat ini. Lihat saja di jalanan, banyak sekali anak-anak yang umurnya belum memadai memiliki izin mengemudi yang berseliweran berkendaraan motor. Padahal, kelakuan ini bukan saja membahayakan diri mereka, tapi juga pengguna jalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, salah satu jagoan betarek pada masa itu adalah Maruki Matsum, yang berasal dari 'Geng Bocek' atau singkatan dari Bocah Ekasari, yang merupakan kumpulan anak-anak yang bermukim di sekitar Gang Ekasari-Podomoro. Aksi dan atraksi dari Maruki merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu, tak ubahnya kita saat ini melihat Valentino Rossi beraksi di lintasan MotorGP. Kekuatan, kecepatan, ketahanan dan napasnya yang tak ada habisnya menjadikan Maruki menjadi raja dalam setiap gelaran. Karirnya Maruki bersepeda tak hanya terputus di arena &lt;em&gt;betarek &lt;/em&gt;saja, juara Pekan Olah Raga Nasional dan SEA Games pun pernah diraihnya dikemudian hari, mengikuti jejak pendahulunya Johnny Van Aert. Pada era 1980-1990-an, pembalap Kalimantan Barat menjadi langganan juara dalam gelaran nasional dan amat disegani. Namun kini, masih ndak ye? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-4755784295142739117?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/4755784295142739117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=4755784295142739117' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/4755784295142739117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/4755784295142739117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2007/10/betarek.html' title='Betarek'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-1251335996358291785</id><published>2007-08-06T21:05:00.000-07:00</published><updated>2007-08-06T21:10:40.278-07:00</updated><title type='text'>Kemponan</title><content type='html'>Beberapa bulan terakhir, akibat kesibukan yang sungguh amat luar biasa, tak sempat aku pulang ke Pontianak. Karena rindu suasana kampong halaman, pada akhir pekan lalu, kusempatkan berkunjung ke rumah salah seorang kerabat asal kampong halaman yang telah lama bermukim di Jakarta. Cerita kondisi politik lokal di kampong halaman, khususnya menjelang pemilihan gubernur dan walikota, mewarnai cengkrama kami. Musim kemarau yang sedang berlangsung di Kalimantan Barat tampaknya akan semakin panas dengan pertarungan para calon menggalang dukungan. Walaupun sayang, pilkada saat ini masih belum juga dapat mengakomodasi munculnya calon independen, yang peluangnya sudah terbuka melalui sebuah keputusan ‘kontroversial’ Mahkamah Konstitusi yang baru lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam obrolan kami, kerabatku itu mengasihani seseorang yang kerap mencalonkan diri menjadi pimpinan daerah. Tapi selalu gagal, baik gagal di tingkat bakal calon karena ketiadaan ’perahu’ maupun gagal terpilih karena sistem pemilihan yang masih menggunakan sistem perwakilan di lembaga perwakilan rakyat. ”&lt;em&gt;Kesian gak &lt;/em&gt;budak &lt;em&gt;tu ye&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;kemponan die nak &lt;/em&gt;jadi pejabat,” demikian komentar kerabatku ini. Wah, baru tersadar aku bahwa &lt;em&gt;kemponan &lt;/em&gt;sudah melebar maknanya dari arti harfiahnya yang kupahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemponan &lt;/em&gt;sendiri memiliki makna sakral bagi komunitas masyarakat di Pontianak. Kedua orang tuaku saja yang merupakan migran dari Sumatera, pun amat mempercayai hal ini. &lt;em&gt;Kemponan &lt;/em&gt;merupakan sebuah istilah yang dipakai untuk menggambarkan ketidak tersampaiannya seseorang untuk mencicipi suatu makanan atau minuman. Nah, jika terkena &lt;em&gt;kemponan&lt;/em&gt;, biasanya musibah akan mengikuti kita kemudian. Tak jarang, jika seseorang terkena musibah, seperti tabrakan atau terjatuh. Makanya, pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepadanya adalah apakah dia sedang kemponan akan sesuatu, sembari memberikan pertolongan. Seingatku, ada dua &lt;em&gt;kemponan &lt;/em&gt;yang paling ditakuti karena buruk akibatnya, yakni: kopi dan &lt;em&gt;pulot &lt;/em&gt;atau ketan. Jangan macam-macam, jika &lt;em&gt;kemponan &lt;/em&gt;salah satu dari kedua hal ini. Dampaknya biasanya akan datang segera dan berdaya destruktif yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, jika kita ditawari sesuatu makanan dan minuman, namun karena tak sempat mengkonsumsinya, orang yang menawari akan menyuruh kita mencicipi (mencuil) sedikit makanan atau minuman tersebut, agar menghindari &lt;em&gt;kemponan &lt;/em&gt;pada diri kita. Istilah yang kerap dipakai untuk mencicipi sedikit ini disebut &lt;em&gt;cecah &lt;/em&gt;ataupun &lt;em&gt;capalit&lt;/em&gt;. Percaya tak percaya, hingga kini, walau dimanapun, budaya takut &lt;em&gt;kemponan &lt;/em&gt;ini masih kujalankan. Walaupun kebiasaanku men-&lt;em&gt;cecah &lt;/em&gt;kerap dipandang aneh oleh orang dari daerah lainnya. Tentunya, kepercayaanku ini terbangun karena kesadaran empiris yang pernah terjadi pada diriku. Mungkin saja ada yang menilai &lt;em&gt;syirik&lt;/em&gt;, tapi bagiku itu adalah bagian dari budaya yang membentuk diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, di awal reformasi, beberapa temanku di Pontianak, pernah membuka sebuah warung kopi bernama &lt;em&gt;kemponan&lt;/em&gt;. Warung kopi ini berada di komplek kantin panjang Universitas Tanjungpura. Mereka berfikir, dengan menggunakan nama &lt;em&gt;kemponan&lt;/em&gt;, warung kopinya akan ramai dikunjungi, karena takut akan terkena &lt;em&gt;komponan&lt;/em&gt;. Tapi sayangnya, warung ini tidak bertahan lama dan teman-temanku pun belum sempat menjadi kaya karenanya. Kompleks kantin panjang dimana kantin ini berada digusur oleh pihak kampus dan dibangun komplek kantin permanen. Kondisi permanen ini mengakibatkan sewa menjadi sangat mahal dan tak terjangkau teman-temanku. Terpaksalah, kali ini teman-temanku itu yang &lt;em&gt;kemponan &lt;/em&gt;menjadi pedagang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-1251335996358291785?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/1251335996358291785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=1251335996358291785' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/1251335996358291785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/1251335996358291785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2007/08/kemponan.html' title='Kemponan'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-117498338027720798</id><published>2007-03-27T02:08:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T02:16:20.530-07:00</updated><title type='text'>Nonggok!</title><content type='html'>Kalau anak generasi MTV sekarang lebih mengenal istilah nongkrong, istilah yang dipopulerkan oleh salah stasiun televisi ini untuk menyapa para pemirsanya, maka pada masa remajaku dulu di Pontianak, hampir 15 tahun yang lalu, nonggok merupakan istilah populer yang setara artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonggok, perkiraanku berasal dari kata dasar onggok yang artinya tumpuk yang memiliki kesan dimensi waktu yang cukup lama di dalamnya. Ungkapan ini cukup tepat untuk menggambarkan kondisi kongkow-kongkow (kumpul-kumpul) ala orang Pontianak, yang pastilah tidak dalam waktu sebentar. Tidak nonggok namanya kalau tidak menghabiskan waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tempat nonggok yang biasa menjadi langganan aku dan teman sebayaku dulu. Nonggok di depan gertak (jembatan) atau di pinggir jalan di depan gang, merupakan tempat ideal dalam menghabiskan akhir pekan kami. Biasanya, waktu idealnya adalah sesaat setelah usainya Adzan Isya hingga menjelang adzan Subuh tiba. Topik obrolan bisa menjangkau isu apa saja. Terkadang permainan gitar seorang teman dan nyanyian sumbang dari suara kami, menjadi selingan acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang pasti akan ada dalam kongkow-kongkow ini adalah sakat-menyakat atau cela-celaan. Aturan sakat-sakatan ala anak Pontianak cukup sederhana, siapa yang berani menyakat orang lain maka haruslah siap disakat dan tidak boleh tersinggung. Walaupun terkadang sakatan yang disampaikan tersebut dapat merambah pada hal-hal yang paling pribadi. Nah, kalau ada seorang teman yang senang menyakat, tapi tersinggung saat disakat orang. Istilah yang akan kami labelkan pada teman yang demikian adalah pendek tongkeng (yang arti harpiahnya adalah ekor ayam) atau pemarah. Jadi kalau mau nonggok, kita haruslah jangan pendek tongkeng!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku agak dewasa, pada saat duduk di bangku sekolah lanjutan atas, tempat nonggok favorit menjadi bertambah, tak lagi hanya nonggok di depan gang atau dipinggir gertak. Tempat tersebut adalah di warung kopi. Dulu di zamanku SMA, ada sebuah warung kopi favoritku, yakni Warung Kopi Aloha, yang terletak di Jl. Gajah Mada. Namun beberapa tahun yang lalu, warung kopi ini telah berubah menjadi sebuah toko buah-buahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya kongkow-kongkow di warung kopi merupakan budaya yang khas daerah pesisir nusantara. Budaya serupa juga dapat dijumpai di beberapa tempat lain, seperti: Aceh, Riau dan semenanjung Malaysia. Namun nonggok di warung kopi di Pontianak punya keunikan tersendiri. Keunikan tersebut adalah lamanya waktu orang kongkow-kongkow di tempat itu. Tak jarang ada orang yang menghabiskan hari hanya dengan duduk dan ngobrol di warung kopi. Sedari pagi hari hingga ke sore hari. Ada pula yang hanya memesan secangkir kopi (terkadang malah yang pancung atau gelas kecil), namun membutuhkan waktu empat sampai lima jam untuk menghabiskannya. Hebatnya lagi! Tak pernah sekali pun, ada pengunjung warung kopi yang diusir penjualnya karena terlampau lama duduk di warungnya. Karena demikianlah adanya, budaya bercengkrama di warung kopi di kota tercintaku, Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya nongkrong di warung kopi ini masih berlangsung hingga saat ini. Dan menjadi tradisi wajib bagiku saat pulang ke Pontianak. Hampir di semua pojok dan penjuru kota dapat dengan mudah kita jumpai keberadaannya. Tapi dimanapun tempatnya, suasana guyub dan kekeluargaannya tetaplah sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-117498338027720798?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/117498338027720798/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=117498338027720798' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/117498338027720798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/117498338027720798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2007/03/nonggok.html' title='Nonggok!'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-116849158777736526</id><published>2007-01-10T20:59:00.000-08:00</published><updated>2007-01-10T20:59:47.913-08:00</updated><title type='text'>Lanting</title><content type='html'>Tiga tahun yang lalu, tak lama setelah tahun baru, datang sebuah pesan singkat (sms) dari seorang teman lama sewaktu bersekolah di SMP. Isinya kira-kira menanyakan kabar dan mengundang aku untuk hadir pada diperesmian Café Lanting yang dimilikinya di Sambas. Walaupun tak sempat datang pada acara peresmiannya, aku menyempatkan mampir ke café yang terletak di badan Sungai Sambas di tengah Kota Sambas itu tak lama kemudian, saat berkunjung ke Santaban di perbatasan Indonesia-Malaysia. Tren membuat café di &lt;strong&gt;&lt;em&gt;lanting&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; tampaknya tak hanya dilakoni oleh temanku ini saja. Di Pontianak, beberapa tahun terakhir muncul café-café yang juga mencoba menggunakan lanting sebagai tempat berjualannya. Setidaknya kini dapat dijumpai di Banjar Serasan, Bansir dan Dalam Bugis. Bahkan kawasan café lanting di Banjar Serasan sekarang sudah menjadi salah satu sajian wisata khas Kota Pontianak, dimana pelancong bisa menikmati makanan khas Melayu Pontianak dan pemandangan panorama Sungai Kapuas.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Lanting&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; sendiri sebenarnya bermakna bangunan terapung di atas sungai. Berkonstruksi kayu dan memiliki pelampung di bagian bawah bangunan. Kalau jaman dahulu, pelampung yang kerap digunakan adalah kayu bulat berukuran panjang. Namun saat ini, seiring semakin berkurangnya hutan, banyak orang yang mulai mengalihkannya dengan menggunakan drum besi ataupun drum plastik. Agar tidak berpindah dan terbawa arus air, lanting akan ditambatkan dengan menggunakan tali ke pinggiran sungai.&lt;br /&gt;Di tahun 1980-an, hampir di sepanjang Sungai Kapuas di sekitar kota Pontianak, banyak kita temukan lanting ditambatkan. Banyak masyarakat yang menjadikan lanting sebagai tempat memasak, fasilitas MCK (mandi, cuci dan kakus) bahkan tak jarang yang menjadikannya sebagai tempat tinggal ataupun tempat usaha. Memang terkesan tak beraturan, tapi terkadang bukankah keindahan terletak dari sebuah ketidakteraturan. Keberadaan lanting di atas sungai ini menjadi terlarang pada periode Majid Hasan sebagai Walikota dengan alih-alih penataan kota. Tak jelas, apakah pelarangan tersebut masih berlaku hingga saat ini.&lt;br /&gt;Bagiku sendiri, lanting merupakan salah satu tempat bermain di waktu kecil. Biasanya, pada saat musim kemarau, aku dan teman sebayaku sering pergi ke lanting di belakang Pasar Kapuas Indah. Tujuannya tak lain adalah menangkap udang galah ataupun ikan lainnya yang kala itu masih dengan mudah ditangkap. Saat itu, kami pun belum lagi takut akan tercemarnya air dan ekosistem Kapuas (khabarnya, pencemaran merkury dan logam berat lainnya sudah cukup tinggi di sungai Kapuas!).&lt;br /&gt;Kalau sebagian besar temanku menangkap udang dengan cara memancing, aku lebih memilih menggunakan jaring sembari berenang di sekitar lanting-lanting yang bersusunan. Entah mengapa, beberapa kali kucoba memancing, tak pernah sekalipun ikan atau udang yang kuperoleh. Kata teman-temanku, aku bukan tipe orang yang memiliki setumpuk kesabaran (mungkin istriku akan tersenyum saat membaca kalimat ini :-)), makanya pancingku tak akan bisa mendapatkan ikan ataupun udang.&lt;br /&gt;Seingatku ada dua hal yang paling mengesalkan kami kala menangkap ikan atau udang, biasanya kami menyebutkan kejadian ini sebagai &lt;em&gt;&lt;strong&gt;suwe&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (nasib buruk atau bad luck). Pertama, kalau pancing atau jaring yang dipergunakan tersangkut kayu atau sampah di bawah air. Mau tak mau, kami harus menyelam melepaskannya. Hal lainnya adalah jika pancing atau jaring kami menangkap ikan buntal (&lt;em&gt;Tetraodon nigroviridis&lt;/em&gt;). Ikan berperut gendut dengan duri yang sangat beracun dipunggungnya ini, bukan ikan yang bisa dikonsumsi, bahkan dagingnya sangat beracun. Jadi tak ada guna menangkapnya dan untuk melepaskannya pun sangat sulit. Hampir tak percaya aku saat membaca sebuah artikel, ternyata di Jepang, ikan yang juga disebut ikan fugu ini bisa dikonsumsi, walaupun tak sembarangan orang yang dapat mengolahnya agar layak dikonsumsi.&lt;br /&gt;Aktivitas memancing ataupun menjaring ini akan berakhir, jika hari sudah menjelang maghrib. Kami akan segera mengambil sepeda dan memacunya berlomba pulang ke rumah sambil menenteng udang atau ikan hasil tangkapan. Tentunya, saat sampai di rumah, kami akan segera membanggakan hasil tangkapan itu dan meminta orang tua kami mengolahnya menjadi tambahan sajian makan malam keluarga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-116849158777736526?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/116849158777736526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=116849158777736526' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/116849158777736526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/116849158777736526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2007/01/lanting_10.html' title='Lanting'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-116288429790838948</id><published>2006-11-06T23:22:00.000-08:00</published><updated>2006-11-06T23:45:14.106-08:00</updated><title type='text'>Pisang Goreng Pontianak</title><content type='html'>Pemerintah Kota Pontianak selama beberapa tahun terakhir telah menghamburkan dana yang cukup besar untuk memperkenalkan dan mengembangkan produk lidah buaya pada pasar. Namun rasanya, hasil yang diberikan tidak lah terlampau signifikan. Nyatanya, hingga saat ini tidaklah banyak permintaan pada produk ini. Memang pasar dapat menjadi satu pengadilan yang paling jujur pada suatu produk. Apabila disenangi, produk tersebut akan eksis di pasaran, sementara jika tidak digemari, iapun akan sedikit demi sedikit hilang dari peredaran. Intervensi pemerintah seakan tidak berarti dalam mengendalikan pasar tersebut dan beberapa pihak (khususnya kaum kapitalis) selalu mengagungkan pasar sebagai sesuatu yang paling demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa bulan terakhir, kuperhatikan muncul fenomena baru di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, yaitu menjamurnya pedagang produk makanan baru, yang bertajuk Pisang Goreng Pontianak. Hampir di seluruh penjuru angin, kios permanen ataupun semi permanen berspanduk Pisang Goreng Pontianak bermunculan. Antrian pembeli pun tampak terjadi pada beberapa tempat penjualan. Kayaknya, hal ini bertolak belakang dengan air lidah buaya produk yang digadang-gadang pemda Pontianak, yang ternyata sangat jarang tampak di menu-menu tempat makan ataupun restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang dibesarkan dan dilahirkan di Pontianak serta penggemar kuliner (tak heran kan, jika diusiaku yang baru di awal 30-an ini aku sudah terkena jantung koroner), muncul rasa penasaranku untuk lebih mengetahuinya. Setahuku, agak sulit membayangkan pisang goreng mana di Pontianak yang menjadi anutan atau pattern. Sebab hampir tak ada pedagang pisang goreng di Kota Pontianak yang popularitasnya melebihi pedagang lainnya. Beda halnya dengan beberapa makanan khas lain, yang hampir warga di penjuru kotanya tahu ada pedagang terpopulernya. Seperti halnya, bakwan yang mengenal bakwan Sungai Jawi atau bakwan Bu Juju di dekat SMP 3, mie tiaw (kwee tiau) yang mengenal mie tiaw Antasari atau Apollo, es krim yang mengenal es krim Petrus, sate yang mengenal sate Antasari, bubur dan air tahu yang mengenal bubur PT (Kaisar), gorengan keladi yang mengenap keladi Jenderal Urip, pengkang (lemper bakar ketan dengan isi tiram) yang mengenal pengkang Purun, atau nasi goreng yang mengenal rumah makan Siti Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahuku ada beberapa penjual pisang goreng atau gorengan yang sudah lama dan dikenal, tapi tak satu yang popularitasnya melebihi yang lainnya, seperti: gorengan Pasar Kota Baru, gorengan Gajah Mada (depan KFC), gorengan Palapa, gorengan depan Rumah Sakit Jiwa di Jl. Alianyang, gorengan depan Rumah Sakit Antonius lama di Jalan Merdeka Barat, gorengan Setia Budi, gorengan Warung kopi Windy (?) di Jl. Gajah Mada dan masih banyak lagi penjualan gorengan lainnya yang mayoritas dagangan yang dijualnya adalah pisang goreng. Hampir di setiap sudut pemukiman padat, penjual pisang goreng tidaklah sulit untuk ditemukan. Kalau dilihat dari etnisitasnya, para penjual gorengan itu pun beragam, ada yang tionghoa, melayu bahkan madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, ada satu penjual gorengan yang cukup unik, yakni di warung kopi obor, dimana pisang goreng disajikan bersama-sama dengan krim srikaya dan tentunya kopi obor khas pontianak. Nikmat sekali rasanya, terutama jika kita sembari memperhatikan diskusi para penikmat kopi, yang berbicara keras dan membahas segala rupa topik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak berbeda dengan kebanyakan pisang goreng di Jawa, salah satu kekhasan pisang goreng Pontianak adalah pada pisangnya yang menggunakan pisang kepok atau dikenal juga dengan pisang nipah. Pisang ini dipotong-potong tipis dan disusun seperti kipas, kemudian dicelupkan dalam campuran air dan tepung, baru setelah itu digoreng hingga matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1980-an, ada satu penjual pisang goreng yang legendaris, yakni pisang goreng Gang Padi. Letaknya tepat di pinggir parit di depan Puskesmas Gigi dan Mata di Jalan Prof. Dr. Hamka atau dahulu dikenal dengan Gang Padi ini. Seingatku, jangankan pisangnya, remah-remah gorengannya pun tak pernah bersisa. Hampir setiap malam antrian panjang pembeli mengantri menunggu untuk dilayani. Bahkan, tak jarang pelancong dari luar kota yang menggunakan pesawat terbang membawanya sebagai buah tangan pada sanak keluarga di tempat asal. Entah mengapa, pada akhir 1980-an, pedagang pisang goreng ini tak lagi berjualan. Banyak cerita beredar seputar tutupnya penjual pisang goreng yang tak jauh dari tempat berdagangnya itu. Yang pasti, hingga saat ini, pisang goreng yang rasanya setara dan sekualitas pisang goreng Gang Padi tak lagi pernah hadir kembali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-116288429790838948?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/116288429790838948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=116288429790838948' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/116288429790838948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/116288429790838948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/11/pisang-goreng-pontianak.html' title='Pisang Goreng Pontianak'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-116226729780680606</id><published>2006-10-30T19:48:00.000-08:00</published><updated>2006-10-30T20:01:38.500-08:00</updated><title type='text'>Tapok Kaleng</title><content type='html'>Tak terasa hari lebaranpun telah tiba, walaupun di negeriku tahun ini setidaknya terdapat tiga kelompok yang berbeda hari merayakannya. Seperti halnya kebanyakan anak-anak lain di Nusantara, lebaran bagiku dan teman sebaya di Pontianak sewaktu kecil merupakan momentum yang ditunggu-tunggu. Pakaian baru dan &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;angpau&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (uang tempel) menjadi daya tarik penting dari lebaran. Dan terkadang keduanya seakan menjadi ajang perlombaan di antara teman sebaya, baik ajang perlombaan memperoleh pakaian yang paling&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; &lt;em&gt;trendy&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; pada masa itu dan juga ajang mengumpulkan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;angpau&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang terbanyak. Walaupun kami kerap pula menjadikan ajang ketahanan berpuasa sebagai adu gengsi diantara teman sepermainan, dimana yang banyak batal puasanya akan selalu dipandang remeh oleh lainnya. Ketidaktahanan berpuasa ini dapat saja dijadikan senjata untuk mencela seorang kawan selama setahun penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis shalat Ied, acara silaturahmi dan saling berkunjung merupakan sebuah tradisi yang melekat di hari yang suci ini. Tradisi berkunjung ini harus saling berbalasan dan dapat berlangsung hingga satu minggu penuh. Di hari pertama, kunjungan lebih diutamakan pada pihak keluarga, selain menyambangi makam para generasi pendahulu. Selepas keluarga dikunjungi, barulah teman sejawat ataupun tetangga. Kunjungan resmi yang demikian biasanya diikuti oleh seluruh anggota keluarga.&lt;br /&gt;Nah, selain kunjungan resmi ini, biasanya aku dan teman-teman sebaya juga punya kebiasaan melakukan kunjugan secara berkelompok. Satu kelompok bisa terdiri dari 5 orang anak, bahkan tak jarang bisa pula mencapai lebih dari sepuluh orang anak. Kunjungan dengan sesama teman sebaya ini, biasanya dilakukan pada malam hari. Tidak hanya tetangga dekat dan dikenal saja yang akan kami kunjungi, yang tak dikenalpun tak jarang kami sambangi. Biasanya , sasaran rumah yang akan dikunjungi adalah rumah yang orangnya tidak pelit dan ramah (akan menjadi prioritas jika sang tuan rumah menyediakan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;angpau &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;bagi tamunya), kuenye berlimpah dan menyajikan minuman berupa &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;aek kaleng&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;aek begas&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (minuman bersoda di dalam kemasan kaleng). Waktu itu, keluarga yang menyediakan &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;aek kaleng&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; masih sangat terbatas, tidak seperti sekarang, yang harganya sudah dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Aek kaleng&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; yang menjadi favorit di masaku kecil tersebut adalah &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;jup&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;tujuh up&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (7 up-seven up).  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;Ngocek&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; atau menyembunyikan aek kaleng ataupun makanan di &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;kocek&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (kantong) celana atau merupakan perilaku yang tak jarang kami lakukan sewaktu kecil. Tak heran, sewaktu kecil, baju dan celana yang memiliki banyak kantong merupakan baju favorit diwaktu lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau airnya habis diminum, kaleng sisa dari &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;aek kaleng&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; juga selalu dimanfaatkan olehku dan kawan-kawanku untuk digunakan bermain.  Permainan tersebut adalah &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;tapok kaleng&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;, yang menjadi permainan khas pada saat paska lebaran. Aturan permainannya sesungguhnya tak jauh berbeda dengan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;petak umpet &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;atau permainan sembunyi-sembunyian lainnya. Namun, pada permainan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;tapok kaleng&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, orang yang menjaga, harus melindungi bangunan piramida yang dibangun dari kaleng bekas &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;aek kaleng &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;dari upaya perusakan yang dilakukan oleh peserta lainnya. Biasanya permainan didahului dengan &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;pimpah &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;(hompimpah) dan &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;pingsut&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (suit) untuk menentukan yang akan menjaga pertama kali. Selanjutnya, peserta secara bersama-sama menyusun kaleng yang ada menjadi piramida. Sebelum sembunyi, peserta yang terpilih akan menghancurkan susunan piramida kaleng, dengan melemparkan sebuah kaleng yang jadi &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;combok&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (penanda bagi yang menjaga) ke arah piramida. Saat piramida &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;aek kaleng&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; hancur, para peserta lainnya akan segera bersembunyi, sementara yang jaga akan membangun kembali piramida yang hancur tersebut dan meletakkan kaleng &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;combok &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;di dekat piramida yang disusunnya. Setelah selesai membangun piramida, barulah si penjaga akan mencari peserta lainnya yang sembunyi. Jika menemukan seorang peserta, si penjaga harus berlari ke arah piramida dan menginjak &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;combok&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; sambil menyebutkan nama orang yang ditemukannya dan dimana lokasi sembunyinya. Demikian seterusnya, sampai seluruh peserta diketemukannya. Peserta yang pertama kali diketemukan akanlah mendapat giliran jaga yang berikutnya. Kalau si penjaga berupa untuk mencari peserta lainnya sembari menjaga piramida &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;aek kaleng&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;, para peserta yang tidak menjaga dan belum ketahuan/ tertangkap memiliki kesempatan untuk menghancurkan piramida dengan menyepaknya secara langsung. Tidak diperkenan mereka menghancurkanya dengan menggunakan peralatan ataupun melemparnya. Jika piramida aek kaleng berhasil dihancurkan oleh peserta lainnya, si penjaga akan kembali menyusun piramida tersebut dan mencari kembali peserta lainnya sedari awal. Permainan yang sederhana ini dapat dimainkan setidaknya mulai dari 5 orang hingga belasan orang. Dan pastinya, semakin banyak pesertanya akan semakin seru dan berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini mungkin &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;aek kaleng &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;tak lagi berkesan dan menjadi minuman khas sewaktu lebaran saja. Sebab minuman bersoda telah menjadi minuman sehari-hari anak di kotaku tercinta. Minuman ini kini telah menjadi minuman komplemen bagi beberapa restoran cepat saji yang telah menjamur dan digemari oleh anak-anak, seperti halnya anakku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-116226729780680606?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/116226729780680606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=116226729780680606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/116226729780680606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/116226729780680606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/10/tapok-kaleng.html' title='Tapok Kaleng'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-115942399136592274</id><published>2006-09-27T23:07:00.000-07:00</published><updated>2006-09-29T17:46:52.053-07:00</updated><title type='text'>Pistol patrom dan sotong pangkong</title><content type='html'>Ada dua tradisi di kota kelahiran yang selalu kukenang saat datang bulan suci Ramadan, karena kedua tradisi ini kerap mengisi hari-hariku menghabiskan bulan yang penuh rahmat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah bermain perang-perangan dengan memakai pistol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt;. Permainan ini pada dasarnya sama dengan permainan perang-perangan biasa, yang banyak ditemukan di seluruh penjuru negeri. Pun, umumnya dimainkan secara berkelompok dan dilakukan sepanjang hari menunggu datangnya waktu berbuka. Perbedaan yang mendasar adalah para peserta permainan ini diharuskan menggunakan pistol yang terbuat dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt; (kepalanya jari-jari) sepeda/ motor yang telah dipasangkan secara terbalik.&lt;br /&gt;Pistol unik ini tidak memiliki peluru, namun dapat menghasilkan bunyi yang sangat nyaring. Ada yang membuat bentuk pistol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt; ini menyerupai pistol atau senapan, walaupun tak jarang yang membuatnya sangat sederhana, hanya dengan memakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt; di sebatang kayu.&lt;br /&gt;Prinsip kerja pistol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom &lt;/span&gt;sesungguhnya tak jauh berbeda dengan ledakan yang terjadi pada sebuah peluru sungguhan. Untuk bisa membunyikan patrom terlebih dahulu ruang berbentuk mangkok yang ada harus diisi dengan isi korek api dari batang korek api. Kemudian diberi sedikit sobekan kertas berbelerang yang ada di dinding korek api agar isinya tidak bercereran. Pencampuran ini akan menyerupai mesiun pada peluru. Nah, sebagai pemicunya biasanya dengan ditusukkan paku kedalam ruang yang dimiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt;. Agar meledak, paku ini harus dipukul dan memicu terjadinya pembakaran di dalam ruang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt;. Jika pada peluru, ledakan ini akan meluncurkan proyektil dan mengeluarkan suara yang keras. Pada pistol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;patrom&lt;/span&gt;, karena hanya berbentuk mangkok, hasil ledakannya hanya akan menghasilkan suara yang keras. Nah, hasil suara yang keras inilah yang membuat seru permainan perang-perangan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah makan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong pangkong&lt;/span&gt;. Makanan khas ini hanya ada pada malam bulan puasa. Para penjualannya biasanya bertebaran dipingir-pingir jalan di perkampungan ataupun di sekitar halaman mesjid. Mereka hanya bermodalkan satu buah meja kecil untuk menempatkan mangkok kecil sebagai wadah makan dan panci berisikan sambal cair, tungku pemanggang, dan satu landasan tempat me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mangkong&lt;/span&gt; (memukul) berikut palunya. Sederhana pembuatannya. Bahan yang dibutuhkan hanyalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong&lt;/span&gt; atau cumi yang sudah dikeringkan dan banyak diperjualbelikan. Cumi ini dipotong-potong sebelum dipanggang di atas api kurang lebih 5 menit sampai matang. Sebelum disajikan bersama sambal cair, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong &lt;/span&gt;tersebut dipukul-pukul di atas landasan sampai menjadi empuk. Kalau saat banyak pembeli, tak jarang para pembeli pun tak sungkan untuk ikut berpartisipasi me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mangkong&lt;/span&gt; sotong yang akan dikonsumsinya.&lt;br /&gt;Sementara untuk membuat sambal cair hanya membutuhkan cabai merah, bawang merah dan bawang secukupnya. Ketiga bahan utama ini digerus/ ulek hingga halus. Hasil gerusan ini kemudian dimasukkan ke air matang dan dicampurkan sedikit cuka untuk menambah rasa.&lt;br /&gt;Cara mengkonsumsi makanan ini juga cukup unik. Biasanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong&lt;/span&gt; yang telah direndam di dalam sambal cair akan diisap-isap sampai hilang rasa sambal cairnya, kemudian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong &lt;/span&gt;tersebut direndam kembali ke dalam sambal cair untuk selanjutnya diisap-isap kembali. Begitu seterusnya. Jika sudah tak lagi berasa rasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong&lt;/span&gt;nya, barulah potongan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong &lt;/span&gt;yang tersisa ditelah. Tak heran, jika untuk mengkonsumsi sepotong &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotong pangkong&lt;/span&gt;, kami kerap menghabiskannya hingga setengah jam-an.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-115942399136592274?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/115942399136592274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=115942399136592274' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/115942399136592274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/115942399136592274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/09/pistol-patrom-dan-sotong-pangkong.html' title='Pistol patrom dan sotong pangkong'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114752716900742266</id><published>2006-05-13T06:26:00.000-07:00</published><updated>2006-05-13T06:32:58.560-07:00</updated><title type='text'>Main Bal</title><content type='html'>Di nusantara ini, sepak bola menjadi sebuah permainan yang merakyat. Hampir di seluruh penjuru negeri, permainan ini selalu dimainkan oleh anak negeri, baik yang masih anak-anak maupun telah dewasa. Walaupun, di tingkat dunia, tim kesebelasan Indonesia hampir tak pernah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Anak negeri ini baru dua kali merasakan perhelatan kancah dunia, yakni pertama pada Piala Dunia 1938 dan pada Olimpiade Melbourne tahun 1962. Jika di perhelatan pertama, tim tersebut masih menggunakan nama &lt;em&gt;Nederland Indies&lt;/em&gt;, yang mayoritas pemainnya merupakan peranakan Belanda, dicukur habis oleh lawannya di penyisihan pertama. Di kesempatan kedua, tim Indonesia baru tersingkir di babak perempat final melawan Rusia, yang saat itu di perkuat kiper terbaik sepanjang masa Lev Yelshin.&lt;br /&gt;Di kampung tercintaku, Pontianak, permainan sepak bola lebih dikenal dengan istilah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ccff;"&gt;main bal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Seperti halnya negeri ini, tim sepak bola asal kotaku tak pernah memberi hasil yang mengembirakan di tingkat nasional. Jangankan bermain di divisi utama, sejak dulu klub perserikatan di kotaku tak pernah beranjak dari divisi dua. Entah dimana salahnya. Padahal, pada jaman Porkas dan SDSB masih diperbolehkan, Kota Pontianak menjadi salah satu daerah penyumbang utama undian berhadiah yang mendukung perkembangan utama olah raga Indonesia di era 1990-an itu. Tampaknya judi yang berhubungan dengan sepak bola lebih mengemuka dibandingkan keahlian atau kemampuan bermain sepak bola di Pontianak. Prestasi terbaik sepak kola di kotaku, seingatku pernah terjadi di saat PSSI Kalbar dipimpin oleh Hakim Bismar Siregar, yang kala itu sedang menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Barat. Saat itu, tim junior PSSI Kalbar cukup disegani di tingkat nasional. Beberapa pemain juniornya bahkan sampai direkrut oleh klub Yanita Utama, yang menjadi tim elit Galatama, kompetisi semi profesional pada masa itu.&lt;br /&gt;Seperti halnya anak-anak lainnya, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;main bal&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; merupakan salah satu kegemaranku di masa kecil. Dulu, dikotaku cukup banyak kompetisi anak-anak yang cukup unik. Dimana para pemainnya dibatasi oleh tinggi badan. Seingatku, ada beberapa tingkatan tinggi badan yang pernah kuikuti, yakni 1,35 meter, 1,45 meter dan 1,50 meter. Pembuat aturan tinggi badan yang diperbolehkan pada suatu gelaran adalah penyelenggara kegiatan. Dalam setiap awal pertandingan, seluruh pemain akan disuruh berdiri berjajar di depan sebuah pintu sederhana, setinggi ukuran yang ditentukan. Selanjutnya satu persatu, para pemain disuruh untuk berdiri tepat di bawah pintu tersebut. Kemudian panitia dan perwakilan kedua tim akan memastikan pemain yang bersangkutan melewati atau tidak ukuran yang ditentukan. Biasanya, kalau ada pemain yang ’mencurigakan’ tinggi badannya melewati batas yang ditentukan, pemain tersebut akan diminta untuk membuka bajunya, karena terkadang banyak yang berbuat &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;bangsat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (curang) dengan mengikat perutnya, sehingga menjadi lebih pendek. Akibat tak ada batasan usia, ada juga orang dewasa yang menjadi pemain. Orang-orang yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;ketu’ &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(kecil tapi tua) ini kerap kali membuat anak-anak seperti aku takut terkena &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;em&gt;tebak&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; (tackling)-an mereka. Melihat betis mereka yang sudah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;betelo’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (besar dan memiliki telor) dan mukanya yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;besomet&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (berkumis) saja, aku &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;sawan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (tak berani) &lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;ngelecek&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (men-dribling) untuk melewati mereka.&lt;br /&gt;Kompetisi yang demikian terkadang dapat berlangsung lebih dari satu bulan. Dalam setiap gelaran, biasanya digunakan sistem setengah kompetisi. Jika pada sebuah pertandingan berakhir seri, maka pemenang akan ditentukan dengan adu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;tembak dua belas pas&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (adu penalti). Namun, pada beberapa kali kesempatan, pernah pula kualami pemenang pertandingan yang akhirnya ditentukan dengan undian. Jarang sekali, lapangan yang digunakan berukuran standar. Sebagian besar menyesuaikan lapangan yang tersedia, terkadang lapangan yang digunakan adalah ladang ubi, yang tentunya bergelombang. Dan membuat kami pemainnya, menjadi kesulitan baik untuk &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;bekejar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (berlari) ataupun mengontrol arah bola.&lt;br /&gt;Waktu pertandingan pun tak seragam. Ada yang menggunakan sistem 2x30 menit dan ada pula yang hanya 2x20 menit. Walau demikian, bagiku setiap ada pertandingan yang demikian, wajib hukumnya untuk menonton atau berpartisipasi sebagai pemain. Beberapa kali, aku di-&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;bon&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (dikontrak) untuk memperkuat sebuah tim. Biasanya, kalau tim yang kuperkuat menang, barulah bayaran untukku diberikan. Tak banyak memang paling hanya cukup untuk membeli beberapa mangkok bakso atau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;mie tiaw&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (kwetiau).&lt;br /&gt;Untuk memperkuat sebuah tim, tidaklah terlampau sulit. Jika pada beberapa permainan kita dilihat bagus, maka saat kita datang ke tempat pertandingan ada saja bos atau cukong sebuah tim yang menawarkan untuk bergabung. Para bos inilah yang akan mengeluarkan pendanaan dalam mengikuti suatu gelaran, mulai dari mendanai pendaftaran, memberi makanan atau minuman selama pertandingan, menyediakan transportasi untuk pendukung dan membayar honor pada pemain yang di-&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;bon&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya. Kalo berharap dari hadiah yang disetidakan oleh penyelenggara, tentunya tak banyak orang yang mau menjadi bos. Namun, sudah merupakan rahasia umum, para bos ini adalah juga penjudi. Mereka akan menjudikan pertandingan yang dilakukan tim dukungannya. Dan biasanya, tak perlu menjadi juara, karena hasil yang mereka peroleh dari sebuah permainan, jauh lebih besar.&lt;br /&gt;Karena sangat berharap untuk menang, tak jarang para bos ini menggunakan cara-cara tak sportif. Cara yang paling banyak dilakukan adalah melalui ’perdukunan’. Aku sendiri tak meyakininya. Bagiku, cara yang demikian sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan mental lawan tanding. Memasang jimat di gawang, memangil hantu laut, memakai dukun dari tanah kayong (Ketapang) dan memantrai para pemain adalah istilah yang jamak kudengar setiap awal pertandingan. Pada masa istirahat, sebagian besar para bos bukannya memberikan instruksi strategi permainan, karena kuyakin mereka tak memahaminya, melainkan memberikan anjuran-anjuran yang menurut mereka bermanfaat untuk menawarkan ilmu pihak lawan. Membalikkan seragam, mengencingi celana, meludahi gawang dan mengoleskan ’lemak babi’ di kaki merupakan beberapa anjuran yang kuingat pernah diintruksikan oleh para bos.&lt;br /&gt;Kalau mengingat-ingat hal di atas, wajar saja sepak bola di kampungku tak pernah memberikan prestasi yang menggembirakan. Sementara di belahan dunia lain, orang lebih mementingkan strategi dan kemampuan para pemain, di kampungku masih banyak yang mengandalkan alam gaib dalam permainan sepak bola. Padahal, tentunya prilaku yang demikian dapatlah dikategorikan &lt;em&gt;syirik&lt;/em&gt;. Entahlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114752716900742266?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114752716900742266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114752716900742266' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114752716900742266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114752716900742266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/05/main-bal.html' title='Main Bal'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114741018966389624</id><published>2006-05-11T22:01:00.000-07:00</published><updated>2006-05-13T06:47:44.550-07:00</updated><title type='text'>Biku, suban dan tungau</title><content type='html'>Saat duduk di kelas empat hingga masa akhir sekolah dasar, tak ada waktu yang paling kunanti, selain saat sepulang sekolah hingga menjelang petang hari. Hampir setiap hari, pada waktu-waktu tersebut selalu kuhabiskan bermain bersama teman sebaya. Sekolah bukan lah sesuatu yang terlalu membebani kami pada kala itu. Hal ini kulihat sangat berbeda dengan anak-anak yang hidup pada masa ini, yang hampir tiap hari selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah, kursus atau pelajaran tambahan. Mungkin ini diakibatkan persaingan yang semakin hari semakin ketat atau ambisi para orang tua untuk menjadikan anaknya menjadi manusia super.&lt;br /&gt;Kala itu, seingatku seakan tak ada hari yang membosankan. Tak peduli hari sedang hujan badai ataupun panas &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;bedengkang &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;(terik yang amat sangat atau panas yang membakar), ruang bermain kami selalulah di luar rumah. Kondisi pemukiman di Pontianak kala itu pun masih sangat mendukung. Lapangan kosong masih banyak dijumpai. Kolong-kolong &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;gertak &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(jalan perumahan berbentuk jembatan yang bersambungan), badan parit dan tepi &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;tembok &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(jalan raya beraspal) yang belum ramai dilalui kendaraan merupakan ruang yang seakan disediakan bagi kami untuk bermain. Anak-anak sekarang yang dibesarkan di Pontianak mungkin tak lagi memiliki keramahan demikian. Makin banyak lokasi perumahan yang ada telah bermetamorfosa menjadi kompleks elit yang dipisahkan pagar-pagar tinggi. Sebaliknya diperkampungan padat, lalu lalang kendaraan mengakibatkan banyak orang tua takut membiarkan anaknya bermain keluar rumah. Wajar saja, jika permainan video game atau ragam permainan di game zone menjadi hari-hari mereka saat ini.&lt;br /&gt;Bermain di luar rumah bukannya tak beresiko. Namun, banyak sekali pelajaran dan kenangan indah, khususnya menyangkut pertemanan dan solidaritas yang kuperoleh. Ada beberapa ’penyakit’ yang kerap kami alami akibat bermain di luar rumah, yang mungkin anak-anak sekarang tak lagi mengenalnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Biku, suban &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;dan &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;tungau&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;adalah beberapa contoh penyebab penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Biku&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;adalah pembengkakan di ujung jari jempol kaki. Pembengkakan ini diakibatkan masuknya lumpur ke sela-sela kuku di jempol kaki. Terkadang pembengkakan yang terjadi dapat berlangsung berhari-hari dan mengakibatkan kaki sulit diinjakkan. Nah, jika sedang terkena penyakit ini, tawaran teman-teman bermain &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;bal &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(sepak bola) akan kutolak mentah-mentah. Sementara itu, terkena &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;suban&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; merupakan derita yang sering kualami akibat main di kebun-kebun atau bermain di parit. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Suban&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; merupakan istilah bagi potongan kayu ataupun &lt;span style="color:#000000;"&gt;onak&lt;/span&gt; (duri) yang menusuk bagian tubuh kita. Nah, jika tidak segera dikeluarkan dapat berakibat pembengkakan. Suban yang paling ditakuti adalah suban kayu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;belian&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (kayu ulin/ Eusideroxylon zwageri), yang banyak digunakan sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;titi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (jembatan), &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;gertak&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ataupun &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;barau&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (dinding parit untuk menghindari longsor), karena biasanya sangat tajam dan sulit dikeluarkan. Selain memperbesar lubang masuk suban dengan menggunakan jarum atau semit (peniti), ada cara lain mengeluarkannya. Yakni dengan menempelkan bawang putih pada lubang masuk suban selama 2-3 menit. Memang suban tersebut tidak akan keluar secara langsung, namun dalam beberapa jam ke depan, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;suban&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; tersebut dengan sendirinya akan keluar.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Tungau&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; adalah binatang kecil yang hidup di air, berbentuk sangat kecil (ukurannya hanyalah sebuah titik) dan berwarna merah muda. Bila &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;tungau&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; menempel pada beberapa bagian tubuh, ia akan menempel dengan lekat dan mengakibatkan gatal pada daerah yang bersangkutan. Bagian tubuh yang menjadi tempat favoritnya menempel adalah pusar (pusat), ketiak dan kemaluan. Biasanya kalau terkena &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;tungau&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, kami sering bergantian membuangnya dari bagian tubuh kami, khususnya pada bagian ketiak dan pusar. Caranya cukup mudah, yakni dengan mencari dimana tungau itu melekat dan selanjutnya mencongkelnya dengan menggunakan jarum. Namun, jika tungau tersebut menyerang kemaluan (khususnya bagian scrotum) kami, yang kala itu sebagian besar belum lagi disunat, agak malu juga meminta tolong pada teman. Akhirnya, terpaksalah harus mengeluarkan sendiri dengan bantuan kaca untuk mencari lokasi serangan binatang kecil ini.&lt;br /&gt;Walau seingatku berkali-kali aku terkena ’penyakit-penyakit’ ini, tak pernah jera aku untuk tetap bermain ke luar rumah. Karena kalaupun aku bertahan di rumah saja, tak banyak juga permainan dan hiburan yang bisa kunikmati. Tidak seperti anak sekarang, yang dininabobokan beragam siaran televisi, film video, video game dan beragam mainan lainnya, yang pengamatanku lebih mendorong mereka menjadi lebih soliter dan kurang solider. Mudah-mudahan saja pengamatanku ini salah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114741018966389624?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114741018966389624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114741018966389624' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114741018966389624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114741018966389624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/05/biku-suban-dan-tungau.html' title='Biku, suban dan tungau'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114705412795623031</id><published>2006-05-07T18:57:00.000-07:00</published><updated>2006-05-13T06:36:08.216-07:00</updated><title type='text'>Kapitol</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/Picture%20arena.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/200/Picture%20arena.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, pada sebuah warung kopi di Ulee Kareng, Banda Aceh, yang berpisah pulau dengan Pontianak, aku bercakap tentang kota itu. Anehnya lagi, kawan berbincangku, bukan lah orang Pontianak. Walaupun saat ini cukup banyak pekerja sosial dari Pontianak, yang mengais kehidupan di tanah yang terkena Tsunami ini, seperti halnya diriku.&lt;br /&gt;Teman bicaraku ini seorang &lt;em&gt;survivor&lt;/em&gt; dari bencana maha dahsyat itu, yang usianya kuperkirakan hampir mendekati 70-an tahun. Dulu, ia kerap ke Pontianak, karena pada masa era 1960 sampai 1970-an, ia bekerja sebagai awak kapal pada sebuah kapal nusantara yang rutin merapati Pelabuhan Sabang. Menurutnya, pada beberapa kali kesempatan, kapal dimana ia bekerja sempat merapat di Pontianak. Namun, sejak ’dimatikannya’ peran Sabang dalam pelayaran internasional, ia pun kehilangan pekerjaan dan beralih menjadi nelayan. Ulee Lhe yang terletak di bagian pantai Kota Banda Aceh dipilihnya sebagai tempat bermukim.&lt;br /&gt;Apakah Kapitol masih ada, demikian pertanyaan pertama yang diajukannya kepadaku, saat kami bercengkrama ditemani beberapa gelas &lt;em&gt;sangger&lt;/em&gt; (sejenis kopi susu khas Aceh). Sejenak kutersentak dan mengingat-ingat apa yang dimaksudkan &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kapitol&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; oleh orang tua yang hampir sebagian besar keluarganya tersapu Tsunami ini. Hanya ada satu tempat bernama &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;Kapitol&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; di Pontianak yang ada dibenakku, yaitu nama sebuah bioskop yang berada di sekitar pasar tengah, yang kemudian sebelum tutup sempat berganti nama dengan Menara. Untuk meyakinkan kutanyakan kembali kepadanya, apakah &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kapitol&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; yang dimaksud adalah nama sebuah bioskop. Dengan anggukan pelan, ia mengiyakan pertanyaanku. Selanjutnya, kujelaskan padanya bahwa sejak akhir 80-an, bioskop itu sudah tak beroperasi, kalah bersaing dengan masuknya jaringan Bioskop Grup 21. Dan kala terakhir aku melewati bekas bangunan bioskop itu, gedungnya telah berubah berfungsi sebagai gudang dan tampaknya akan dilakukan pembongkaran. Dengan lirih, ia menyayangkan kondisi itu.&lt;br /&gt;Tampaknya, ia memiliki begitu banyak kenangan pada bioskop itu. Wajar saja, karena bioskop itu adalah merupakan tempat hiburan yang paling dekat dengan pelabuhan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ffff;"&gt;Seng Hie&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, pelabuhan laut yang ramai pada masa itu. Sebagai pelaut yang dapat berhari-hari berlayar di laut, bioskop biasanya merupakan tempat menghibur diri saat kapal sedang merapat dan bongkar-muat. Apalagi, pada masa itu, film nasional kita masih berada pada masa keemasan.&lt;br /&gt;Kukenang kembali masa kecilku, karena sulit mencari hiburan, bioskop menjadi salah satu yang terfavorit. Ada banyak bioskop yang menjamur di penjuru kota. Di tengah kota, selain &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;Kapitol&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; atau Menara, ada beberapa bioskop lainnya, diantaranya: Pontianak Teater, Abadi Teater, Kapuas Teather dan Khatulistiwa Teater. Beberapa bioskop lainnya berada di pusat pemukiman, seperti: Bioskop Lido di Sumur Bor, Bioskop Jeruju di Jeruju, Garuda Teater di Sungai Jawi, Bioskop Nusa Indah di Siantan, Jeruju Teater di Jeruju dan Kota Baru Teater di Kota Baru.&lt;br /&gt;Hampir semua bioskop itu, berguguran diera 80-an, akibat masuknya Grup 21, milik Sidwikatmono, yang menggunakan strategi &lt;em&gt;cineplex&lt;/em&gt; (cinema complex). Guna mendukung strateginya itu, kelompok usaha ini, yang pemilikinya masih berhubungan darah dengan Ibu Negara pada waktu itu, memanfaatkan kedekatan dengan penguasa untuk memperoleh kewenangan monopoli dalam distribusi film. Pada masa itu, Kota Pontianak memiliki 4 cineplex, diantaranya: Kapuas 21 di Kompleks Kapuas Plaza, Dinasti 21 di pertokoan di Jalan Tanjungpura dan Studio 21 di Kompleks Nusa Indah Plaza.&lt;br /&gt;Kejayaan kelompok 21 ini tak berlangsung lama, hanya bertahan kurang dari 10 tahunan. Pada awal 1990-an, perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat untuk menikmati film di rumah atau dikenal juga sebagai &lt;em&gt;home studio&lt;/em&gt; (bioskop di rumah) melalui perangkat pemutar cakram (&lt;em&gt;compact disk player&lt;/em&gt;). Apalagi, di negara yang belum begitu menghargai hak atas kekayaan intelektual ini, penggandaan &lt;em&gt;compact disk&lt;/em&gt; yang menjadi perangkat pendukungnya amat mudah diproduksi secara illegal. Keadaan ini diperparah dengan deregulasi pertelivisian, yang mencabut monopoli TVRI sebagai satu-satunya lembaga penyiaran televisi. Akibatnya bermunculan televisi swasta, yang juga menyajikan banyak hiburan bagi warga kota.&lt;br /&gt;Kini, bangunan-bangunan bioskop masa lalu, hampir seluruhnya berubah fungsi. Bioskop Abadi di persimpangan Diponegoro dan Tanjungpura telah berubah menjadi gedung perbankan milik Bank Internasional Indonesia, Bangunan Pontianak Teater, walau hingga kini lokasi tersebut masih digelari banyak orang sebagai PT yang merupakan singkatannya, telah berubah menjadi Supermaket Kaisar yang terkenal menjual barang-barang konsumsi berasal dari Malaysia. Perubahan menjadi supermaket juga terjadi pada beberapa bekas bangunan bangunan bioskop lainnya, seperti: Garuda Teater yang menjadi Supermaket Garuda Mitra dan Jeruju Teater yang menjadi Supermaket Metro Daya. Ruang bekas Kapuas Teater di lantai atas komplek pertokoan Kapuas Indah, beberapa waktu belakangan dipergunakan sebagai arena sepak bola ruangan.&lt;br /&gt;Bangunan eks Bioskop Lido, dipersimpangan Jl. Danau Sentarum dan Jl. Dr. Sutomo, telah lama dibongkar dan di atasnya telah berdiri beberapa rumah toko. Bioskop Kota Baru pun telah pula berubah pemanfaatannya. Setelah sebelumnya sempat menjadi tempat latihan aerobik, sejak beberapa tahun belakang bangunannya telah menjadi persekolahan teologi. Dan yang paling malang adalah dialami bekas bangunan Khatulistiwa Teater, yang terletak tepat di jembatan penyeberangan satu-satunya di Pontianak di Jl. Tanjungpura. Bangunan bioskop ini dipagari dengan seng dan tak lagi tampak bangunannya. Fungsi bangunannya tidak jelas, sementara halamannya dimanfaatkan Bank Mandiri sebagai tempat parkir pelanggannya.&lt;br /&gt;Di banyak kota, bioskop dan gedung pertunjukan kerap menjadi ciri khas dan penanda (&lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt;) dari kota yang bersangkutan. Selain itu, bangunan-bangunan tersebut banyak meninggalkan kenangan bagi warga kota dan pengunjung yang mendatanginya. Dan tentunya kenangan tersebut, yang mungkin saja merupakan kenangan manis ataupun pahit, akan menguap seiring dihancurkan atau dirubahnya bangunan tersebut. Tak heran, banyak otoritas kota yang berupaya menjaga keberadaannya. Sayangnya, hal tersebut tidak dilakukan oleh pemerintah Kota Pontianak. Telah banyak landmark kota yang hilang. Penjara Sungai Jawi, Arena Remaja, Persekolahan Kampung Bali dan Puskesmasnya, Gedung Pancasila dan Komplek Tangsi Militer merupakan beberapa contoh &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt; di Pontianak, yang telah tak dapat lagi kita lihat kini. Sementara, bangunan SMP Negeri 1 tempatku dan juga Pak Walikota sekarang bersekolah dahulu, kabarnya juga sedang dalam antrian untuk renovasi (bahasa yang lebih halus dari dibongkar), setelah sebelumnya diberitakan akan digusur. Semoga pembongkaran yang dilakukan tidak merubah terlampau banyak ciri khas lamanya.&lt;br /&gt;Nah, kita tunggu saja, &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt; mana lagi yang akan menyusul untuk dihancurkan atau diubah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114705412795623031?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114705412795623031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114705412795623031' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114705412795623031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114705412795623031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/05/kapitol.html' title='Kapitol'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114543881661590953</id><published>2006-04-19T02:19:00.000-07:00</published><updated>2006-04-19T03:23:14.696-07:00</updated><title type='text'>Keramak</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/JL.%20H.AGUS%20SALIM%201971.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 221px; CURSOR: hand; HEIGHT: 140px" height="186" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/200/JL.%20H.AGUS%20SALIM%201971.jpg" width="275" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini nama binatang yang sekarang amat jarang untuk ditemui di Pontianak. Binatang dari rumpun &lt;em&gt;Crustaceae &lt;/em&gt;ini seakan telah kehilangan ekosistem ideal tempatnya berbiak dan bermukim. Dahulu keramak amat mudah dijumpai di dinding-dinding parit yang masih berupa tanah ataupun di antara gertak-gertak yang menghubungkan jalan-jalan di kota ini. Ketika terjadi perubahan perilaku pengelolaan kota, yang dimulai sejak kepemimpinan Walikota Madjid Hasan, populasi keramak pun akhirnya secara drastis menurun. Sejak masa itu parit-parit diperkecil, dinding-dinding parit diperkuat dengan semen, sebagian besar gertak digusur dan diganti dengan jalan beraspal ataupun bersemen, yang tentunya harus didahului dengan penimbunan tanah. Para walikota selanjutnya seakan mengekalkan pendekatan yang sangat tidak adaptif dengan kondisi lingkungan Pontianak ini.&lt;br /&gt;Dulu, pemerintah kolonial dalam melakukan perencanaan kota dengan sangat sadar mempertimbangkan kondisi geografis kota yang berada tak lebih dari 5 meter dari permukaan laut ini. Sehingga desain drainase kota yang dirancang adalah pembuatan saluran drainase yang lebar dan tak perlu dalam. Prinsip utamanya untuk memperluas daerah penampungan air, sehingga saat air laut pasang ataupun air hujan turun, kelebihan air dapat tertampung. Penggunaan gertak untuk jalan-jalan pemukiman dan parit yang lebar merupakan beberapa bentuk implementasinya. Tak heran, jika kita kenang Komplek Tangsi/ Asrama Sudirman (sejak akhir 1980-an telah digusur dan sekarang berubah menjadi Pasar Sudirman), sebagian besar perumahan di komplek tersebut berada di atas sebuah danau kecil. Atau, perhatikan parit-parit utama, seperti Sungai Bangkong, Sungai Jawi, dan Parit Tokaya, luasnya dahulu dapat mencapai belasan meter, hingga dapat dilalui oleh sampan.&lt;br /&gt;Kehilangan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, bagiku lebih terasa dibandingkan kehilangan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ikan gendang-gendis&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, belut ataupun&lt;em&gt; &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ikan jolong-jolong&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Walaupun mungkin ketiganya merupakan indikator penting bagi tingkat kesehatan sebuah ekosistem parit. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Keramak&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;memiliki arti tersendiri bagiku. Ada permainan masa kecilku yang sangat terkait dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, yaitu sadu atau adu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Memang kalau disadari sekarang, permainan itu tidak memiliki pri kebinatangan, tapi permainan tersebut membuat diriku memahami ekosistem parit. Untuk dapat main adu &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;keramak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;/span&gt; tentunya aku haruslah memiliki &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;keramak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt; Dan untuk itu aku harus pula memancingnya. Cara yang paling sering kugunakan adalah dengan menggunakan getah gelang (karet gelang) berwarna merah sebagai umpannya. Getah gelang tersebut kuikat membentuk seperti kupu-kupu dengan menggunakan tali layangan pada sebuah ujung lidi. Nah, selanjutnya pancing tersebut dimasukkan ke lubang &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;keramak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;/span&gt; jika ada, biasanya sang &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;penghuni lubang tersebut akan mencengkram dengan capitnya yang merah. Untuk menghindari agar capitnya tidak patah atau keramaknya terlepas, pancing tersebut harus ditarik pelan-pelan sampai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;tergantung dan dapat dimasukkan ke botol atau plastik penampungan.&lt;br /&gt;Adu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;sendiri biasanya kerap dilakukan pada saat musim kemarau. Di saat air di parit mengering dan banyak &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;yang berkeliaran sehingga mudah untuk menangkapnya. Botol kaca merupakan arena yang dipergunakan untuk adu keramak. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Keramak&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;yang akan diadu dimasukkan ke dalamnya. Biasanya pertarungan akan cukup lama dan penuh dengan buih yang dikeluarkan oleh kedua &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;petarung tersebut. Kemenangan pertarungan ditentukan dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;keramak&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;mana yang berhasil mematahkan kedua capit lawannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114543881661590953?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114543881661590953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114543881661590953' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114543881661590953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114543881661590953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/04/keramak.html' title='Keramak'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114412438736582053</id><published>2006-04-03T21:13:00.000-07:00</published><updated>2006-04-03T21:31:26.406-07:00</updated><title type='text'>TEMBALAK</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/kapuas2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 173px; CURSOR: hand; HEIGHT: 128px" height="76" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/200/kapuas2.jpg" width="91" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata ini seakan tiba-tiba saja muncul dari alam bawah sadarku, saat beberapa waktu lalu pulang ke kampung halaman tercinta. Masa libur yang dianjurkan (baca: setengah dipaksakan) oleh pemerintah, untuk menghindari penyimpangan Harkitnas (hari kejepit nasional), ternyata bertepatan dengan kunjungan rutin saudara-saudara Tionghoa asal Pontianak untuk bersembahyang kubur. Akibatnya, harga tiket pesawat ke Pontianak melonjak berkali lipat. Kalau biasanya dengan enam ratus ribuan sudah bisa mendapatkan tiket bolak-balik, saat-saat begitu ternyata jumlah sedemikian hanyalah cukup untuk satu kali jalan saja. Walaupun di tiket yang diberikan tertera nominal harga yang lebih kecil jauh dari yang harus dibayarkan.&lt;br /&gt;Permainan busuk antara otorita bandara, calo dan perwakilan maskapai penerbangan merupakan penyebab dari kenaikan harga yang demikian. Memang secara teoritis, akan terjadi peningkatan harga seiring dengan meningkatnya permintaan. Tapi kalau saja tak ada ’kolusi’ diantara mereka, tentunya lonjakan harga tiket itu tidak lah akan setinggi demikian.&lt;br /&gt;Nah, kala sedang menunggu keberangkatan kembali ke Jakarta di Bandara Supadio, yang saat itu sedang direnovasi, sehingga lebih mirip kapal pecah atau terminal bis itu, aku merenungi kebusukan pertiketan transportasi yang terjadi. Kayaknya, kita semua sudah mengetahuinya, seperti halnya korupsi yang berlangsung, baunya bisa kita endus, tapi sulit sekali menyelesaikan. Cukup lama memikirkan tentang kebusukan inilah, yang mengakibatkan kata &lt;span style="color:#33ffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;tembalak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;kembali menyeruak di benakku. Aku mengenang saat masih suka mencecak lumpur dan berenang di parit, &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;tembalak &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;sering kali aku dan teman-temanku persalahkan. Jika seseorang dari kami buang angin &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(bace: kentut)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; dengan bau busuk, maka kata-kata &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;tembalak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; lah yang meluncur dari mulut yang lainnya. Wajar saja, saat itu kami sering makan secara tak teratur dan lebih banyak main, sehingga bau yang keluar itu mirip dengan baunya &lt;span style="color:#66ffff;"&gt;&lt;strong&gt;tembalak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;Tembalak&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;sendiri adalah sebutan khas orang Pontianak kepada telur yang tidak ditetaskan dengan sempurna, sehingga membusuk. Dan biasanya &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;p***m**-nye&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; merupakan kata ikutan yang paling pas untuk menyertai &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#66ffff;"&gt;tembalak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, bisa saja sebelum ataupun sesudahnya. Hehehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114412438736582053?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114412438736582053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114412438736582053' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114412438736582053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114412438736582053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/04/tembalak.html' title='TEMBALAK'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114248535760045786</id><published>2006-03-15T20:51:00.000-08:00</published><updated>2006-03-15T21:10:53.763-08:00</updated><title type='text'>Mufti Agung Ponti dari Negri Jiran</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/hj_ismail.0.jpg"&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/hj_ismail.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 76px; CURSOR: hand; HEIGHT: 106px" height="129" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/200/hj_ismail.0.jpg" width="76" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Ismail al-Kalantani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;&lt;a href="http://xlln.blogspot.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://xlln.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;From Utusan malaysia 2-4-2004: Bicara Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;Ismail al-Kalantani - Mufti Kerajaan Pontianak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ULAMA yang berasal dari Kelantan ini pernah penulis riwayatnya di dalam Majalah Pengasuh yang diperlengkapkan oleh Ismail Awang. Selanjutnya dimuat dalam buku Tokoh-Tokoh Ulama Semenanjung Melayu (jilid 1), yang diselenggarakan oleh Ismail Che Daud dan diterbitkan oleh Majlis Ugama Islam Dan Adat Istiadat Melayu Kelantan, cetakan pertama, 1988. Beberapa tahun kemudian penulis menemui data-data baru mengenai ulama Kelantan yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Pontianak di Kalimantan Barat ini, oleh itu riwayat mengenainya ditulis kembali di dalam ruangan Agama, Utusan Malaysia ini.Nama lengkapnya ialah Ismail bin Haji Abdul Majid bin Haji Abdul Qadir al-Kalantani. Lahir di Kampung Labok, Macang, Kelantan. Mengenai tahun lahir dan wafatnya masih perlu dikaji kembali. Pendapat awal menyebut bahawa Ismail Kelantan lahir pada tahun 1293 Hijrah/1876 Masihi. Ismail Che' Daud menjelaskan pada notanya bahawa ulama tersebut lahir pada awal tahun 1300 Hijrah/1882 Masihi. Demikian tentang wafatnya bahawa pendapat awal menyebut tahun 1365 Hijrah/1946 Masihi, Ismail Che' Daud menyebut kemungkinan pada tahun 1370 Hijrah/1951 Masihi atau terkemudian lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ismail dan abangnya Muhammad Nuh (yang kemudian dikenali sebagai Haji Nuh Kaya) setelah memperoleh pendidikan asas di Kelantan, dihantar belajar ke Mekah. Di Mekah, Ismail sempat mengikuti majlis pengajian Syeikh Ahmad al-Fathani, sama ada di rumah mahu pun di Masjid al-Haram. Ada orang meriwayatkan bahawa Ismail Kelantan pulang ke Kelantan sesudah haji pada tahun 1325 Hijrah/1908 Masihi, iaitu tahun kewafatan Syeikh Ahmad al-Fathani (wafat 11 Zulhijjah 1325 Hijrah/18 Januari 1908 Masihi). Riwayat lain menyebut bahawa setelah Syeikh Ahmad al-Fathani meninggal dunia, Ismail Kelantan meneruskan pengajiannya kepada beberapa orang ulama besar Mekah, antaranya Saiyid Abdullah az-Zawawi (lahir 1266 Hijrah/1850 Masihi, wafat 1343 Hijrah/1924 Masihi), Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi dan ramai lagi. Syeikh Muhammad Mahfuz bin Abdullah at-Tarmasi berasal dari Termas (Jawa) adalah seorang ulama besar Mazhab Syafie dan ahli dalam ilmu hadis. Beliau mempunyai beberapa karangan yang besar, antaranya Muhibah Zawin Nazhar yang tebalnya empat jilid.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hubungan mesra antara Ismail Kelantan dengan Saiyid Abdullah az-Zawawi sejak beliau belajar di Mekah lagi, yang ketika itu Saiyid Abdullah az-Zawawi adalah seorang Mufti Mazhab Syafie di Mekah. Ketika pergolakan Wahhabi di Mekah, beberapa orang ulama tidak aman tinggal di Mekah, termasuklah Saiyid Abdullah az-Zawawi. Haji Ismail Kelantan mengikut gurunya Saiyid Abdullah az-Zawawi itu berhijrah dari Mekah ke Riau dan selanjutnya ke Pontianak. Sewaktu Saiyid Abdullah az-Zawawi menjadi Mufti Pontianak, Ismail Kelantan terus bersama gurunya itu, belajar pelbagai bidang ilmu tiada henti-hentinya walau pun ilmu yang dikuasainya cukup banyak dan memadai. Riwayat lain menyebut bahawa Ismail Kelantan pulang ke Kelantan lebih awal (1325 Hijrah/1908 Masihi), dan selanjutnya pergi ke Cam/Kemboja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;Ilmu falak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ismail Kelantan tidak sempat menamatkan ilmu falak yang dipelajarinya daripada Syeikh Ahmad al-Fathani. Oleh itu setelah Syeikh Ahmad al-Fathani meninggal dunia, beliau meneruskan pendidikan khusus tentang ilmu falak itu daripada Syeikh Muhammad Nur bin Muhammad bin Ismail al-Fathani. Ketika mempelajari ilmu falak daripada Syeikh Muhammad Nur al-Fathani, beliau bersama Syeikh Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar. Mengenai ketokohan Ismail Kelantan dalam ilmu falak dapat dibuktikan dalam karyanya Pedoman Kesempurnaan Manusia. Menurut cerita Ustaz Abdur Rani Mahmud (ketika masih hidup sebagai Ketua Majlis Ulama Kalimantan Barat), bahawa Ismail Kelantan adalah orang pertama yang menyebarluaskan ilmu falak di Pontianak, khususnya atau Kalimantan Barat umumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KE PONTIANAK SEBAGAI MUFTI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selain bersama gurunya Saiyid Abdullah az-Zawawi di Pontianak, Ismail Kelantan pernah menziarahi Syeikh Muhammad Yasin, seorang ulama yang berasal dari Kedah, yang tinggal di Kuala Secapah, Mempawah. Pada tahun kedatangan Ismail Kelantan ke Kuala Secapah, Mempawah itulah Syeikh Muhammad Yasin Kedah meninggal dunia. Ismail Kelantan juga menziarahi Wan Nik, seorang ulama sufi yang berasal dari Patani. Beliau tinggal dalam bandar Mempawah.Dalam waktu yang relatif singkat, kealiman Ismail Kelantan tersebar di sekitar Mempawah dan Pontianak. Oleh sebab itu Adam, seorang hartawan Bugis di Sungai Itik, Pontianak, iaitu seorang yang sangat haus dengan ilmu pengetahuan, menjemput Ismail Kelantan mengajar di rumahnya. Bukan itu saja, atas kehendak Adam dan Mu'minah binti Haji Muhammad Thahir, mereka menjodohkan anak perempuannya dengan Ismail Kelantan. Perkahwinan dengan anak Adam itu merupakan perkahwinan Ismail Kelantan yang pertama di Pontianak. Detik-detik terakhir akan kepulangannya ke Kelantan, Ismail berkahwin lagi dengan Jamaliah yang berasal dari Tasik Malaya, Jawa Barat. Perkahwinan kedua ini adalah atas kehendak dan perintah Sultan Muhammad, Sultan Pontianak.Daripada sepucuk surat Ismail Kelantan kepada Syarif Muhammad bin Syarif Yusuf, Sultan Pontianak, tarikh Pontianak: 28 Februari 1924, dapatlah diketahui bahawa mula-mula beliau dilantik sebagai Naib Hakim di Rad Agama Pontianak mulai tarikh 12 Ogos 1920 Masihi. Pada tarikh penulisan surat 28 Februari 1924, kedudukan Ismail Kelantan adalah sebagai Mufti di Kerajaan Pontianak.Sewaktu Ismail Kelantan menjadi Mufti Pontianak, ada tiga orang ulama yang bernama Ismail. Dua orang lagi ialah Ismail bin Abdul Lathif (lebih dikenali dengan Ismail Jabal) dan Ismail bin Abdul Karim (lebih dikenali sebagai Ismail Mundu). Ismail bin Abdul Lathif berpangkat Adviseur Penasihat Rad Agama Kerajaan Pontianak. Ismail bin Abdul Karim (wafat pada hari Khamis, 15 Jamadilakhir 1376 Hijrah/16 Januari 1957 Masihi) pula adalah Mufti Kerajaan Kubu, sebuah kerajaan kecil di bawah naungan Kerajaan Pontianak. Ketiga-tiga ulama tersebut sangat terkenal di dalam Kerajaan Pontianak. Bahkan kerajaan-kerajaan lain di seluruh Kalimantan/Borneo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;PULANG KE KELANTAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ismail Kelantan pulang ke Kelantan sekitar tahun 1937. Di Kota Bharubeliau menjadi guru di Jami' Merbau yang berstatus sebagai pendidikan tinggi Islam ketika itu. Murid-murid yang diterima di Jami' Merbau adalah orang-orang yang telah mendapat pendidikan yang cukup memadai, yang datang dari seluruh Semenanjung dan Patani.SemangatSelain mengajar di Jami' Merbau, Ismail Kelantan juga menjadi guru dan imam di Istana Sultan Kelantan. Ismail Kelantan adalah hafiz al-Quran tiga puluh juzuk, fasih ketika berpidato dan berkhutbah di atas mimbar. Kelebihannya pula dapat mempengaruhi dan membakar semangat pendengar. Dalam satu peristiwa pergaduhan yang didalangi Bintang Tiga yang terjadi di Kota Bharu, Ismail Kelantan telah berpidato sehingga menaikkan semangat juang orang Melayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PENULISAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1. Fatwa Daripada as-Saiyid Abdullah Ibnu Almarhum as-Saiyid Muhammad Shalih az-Zawawi Jawab Soal Dari Tanah Jawa, diselesaikan pada 25 Syawal 1330 Hijrah. Kandungannya mengenai ayat-ayat al-Quran dalam piring hitam. Diberi gantungan makna dalam bahasa Melayu daripada karya asalnya yang ditulis dalam bahasa Arab, Rejab tahun 1326 Hijrah. Dicetak dengan kehendak as-Saiyid Ja'far bin Pangeran Syarif Abdur Rahman al-Qadri Pontianak. Dicetak di Mathba' Haji Muhammad Sa'id bin al-Marhum Haji Arsyad, No. 82 Arab Street Singapura, pada 25 Syawal 1330 Hijrah oleh Muhammad bin Haji Muhammad Sa'id, Basrah Street, No. 49 Singapura.2. Risalah Pada Bicara Jum'at dan Sembahyang Zhuhur Mu'adah, tanpa dinyatakan tarikh selesai penulisan. Tarikh salinan 3 Rabiulawal 1345 Hijrah. Manuskrip disalin oleh Khathib Peniti Kecil, diperoleh di Pontianak pada 8 Syawal 1422 Hijrah/22 Disember 2001 Masihi. Kandungan perbahasan khilafiah mengenai sembahyang Jumaat dan sembahyang Zuhur atau mu'adah.3. Pedoman Kemuliaan Manusia, kandungannya membicarakan rampaian berbagai-bagai ilmu, termasuk falakiyah. Cetakan yang pertama Mathba'ah al-Ma'arif, Kota Bharu, Kelantan. Taqriz/pujian: Tuan Guru Ahmad Mahir bin Haji Ismail Kemuning, Kadi Besar Negeri Kelantan (ditulis pada 22 Januari 1938), Tuan Guru Nik Muhammad Adib bin Syeikh Muhammad Daud, Jawatan Tinggi Kadi Pelawat atau Pemeriksa Kadi-kadi Dalam Kelantan (ditulis 22.11.37), Tuan Guru Abdullah Tahir bin Ahmad, Guru Besar Ugama Dalam Kelantan dan Anggota Ulama Dalam Majlis Ugama Islam Kelantan (ditulis 14 Zulkaedah 1356 Hijrah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KETURUNAN DAN MURID&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sewaktu Ismail Kelantan pulang ke Kota Bharu, Kelantan, tiga orang anaknya dengan isteri pertama telah berumah tangga, ketiga-tiganya tidak ikut pulang ke Kelantan. Anak-anaknya yang pernah ditemui penulis ialah anaknya yang tinggal di Parit Sungai Keluang, Peniti, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak. Suaminya bernama Arif. Seorang anak Ismail Kelantan yang perempuan lainnya tinggal di Pontianak. Dipercayai ketiga-tiga anak Ismail Kelantan melahirkan keturunan yang ramai di Pontianak atau pun telah berpindah ke tempat-tempat lainnya.Antara sekian ramai murid Ismail Kelantan di Pontianak yang sangat rapat dengan penulis ialah Ustaz Abdur Rani Mahmud. Beliau termasuk salah seorang guru penulis. Jawatan terakhir beliau ialah Ketua Majlis Ulama Kalimantan Barat. Beliau adalah tempat rujukan segala kemusykilan mengenai Islam bagi masyarakat umum dan pihak pemerintah di Kalimantan Barat.Cerita-cerita mengenai kelebihan atau keistimewaan Ismail Kelantan banyak penulis dengar dan catat daripada Abdur Rani Mahmud. Menurut Abdur Rani Mahmud, Ismail Kelantan adalah orang pertama menyebarkan ilmu falak secara meluas di Pontianak. Katanya, ``Kemungkinan Haji Ismail Kelantan hafal Quran tiga puluh juzuk kerana di mana saja beliau duduk, mulutnya sentiasa membaca ayat-ayat al-Quran. Tangannya senantiasa memegang tasbih. Kalau mengajar mata pelajaran apapun yang diajarkannya semuanya secara hafal walau pun kitab ada di depannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;''&lt;span style="font-size:78%;"&gt;_____________© UTUSAN MELAYU (M) BHD., 46M, Jalan Lima Off Jalan Chan Sow Lin, 55200 Kuala Lumpur&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114248535760045786?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114248535760045786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114248535760045786' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114248535760045786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114248535760045786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/03/mufti-agung-ponti-dari-negri-jiran.html' title='Mufti Agung Ponti dari Negri Jiran'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-114247731512067250</id><published>2006-03-15T18:44:00.000-08:00</published><updated>2006-03-15T20:09:34.163-08:00</updated><title type='text'>Sepok</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Sepok,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;kata ini kini semakin jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari di komunitas yang berbahasa Melayu di Pontianak dan sekitarnya. Dahulu kata ini kerap digunakan, khususnya untuk menggambarkan prilaku atau sifat seseorang yang kurang mengikuti perkembangan zaman. Di sebuah acara radio yang populer di kota ini pada era 80-an, yakni acara “Obrolan Bang Lan dan Mak Jaenab” di Radio Diah Rosanti, kalimat ini lancar mengalir dari almarhum sang penyiar yang memiliki kemampuan menyajikan dialog 2 orang berjenis kelamin berbeda tersebut. Kalau kita perhatikan di radio-radio lokal saat ini, para penyiar mungkin lebih akrab menggunakan kata 'kampungan' mengikuti gaya bicara yang digunakan pada acara-&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/019.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 144px; CURSOR: hand; HEIGHT: 136px" height="155" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/320/019.jpg" width="142" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;acara sinema elektronik, yang menjadi konsumsi hari-hari warga nusantara saat ini.&lt;br /&gt;Entah siapa yang pertama kali menggunakan kalimat ini sebagai ungkapan tersebut dan sejak kapan ungkapan tersebut terpopulerkan. Kalau kita coba menggali darimana kata itu berasal. Saya memiliki dua dugaan mengapa kata tersebut dipakai untuk menggambarkan seseorang yang ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;Dugaan pertama saya, kata &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;em&gt;sepok&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;secara harfiah berarti tanah gambut. Nah, karena banyak juga orang di Pontianak menganggap tanah gambut adalah tanah yang belum matang, karena belum dapat digunakan maksimal untuk bertani, dan butuh pembakaran untuk mematangkannya. Kondisi ketidakmatangan inilah yang mungkin diambil untuk diasosiasikan dengan ketertinggalan zaman. Kalau memang diinspirasikan dari tanah gambut ini, tentunya pengonotasian dengan ketertingalan zaman akan dapat berumur panjang, karena pola pematangan tanah gambut dengan menggunakan pembakaran masih berlangsung hingga saat ini. Lihatlah apa yang terjadi setiap musim kemarau, Pontianak selalu diselimuti asap akibat kebiasaan tersebut.&lt;br /&gt;Dugaan lainnya, &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;sepok&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;diambil dari sebuah daerah di Kecamatan Sungai Kakap, yang hingga 1990-an masih sangat terisolisasi akibat belum tersedianya transportasi yang memadai ke kawasan tersebut. Mungkin karena letaknya yang relatif dekat, tapi karena minimnya transportasi ke kawasan ini, banyak yang beranggapan kawasan ini kerap tertinggal informasi dibandingkan daerah lain. Nah, kalau memang hal ini yang menjadikannya penyebab digunakannya kata &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;sepok&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; untuk menggambarkan ketertinggalan zaman, tentunya mungkin saja kata sepok pada suatu hari tidak lagi pas untuk menggambarkan ketertinggalan zaman. Khususnya, saat transportasi ke daerah sudah bukan lagi merupakan sebuah hambatan. Kabarnya, sejak beberapa waktu yang lalu, di daerah ini bahkan sudah dapat digunakan telepon seluler, yang dalam makna lainnya daerah ini telah pula tergabung sebagai sebuah titik di dalam globalisasi informasi yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;Walahualam dah mana yang jadi sumber inspirasi penggunaan kata yang semakin hari semakin tergerus oleh budaya dominan (baca: bahasa Jakarta), yang semakin meminggirkan bahasa dan istilah-istilah lokal kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-114247731512067250?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/114247731512067250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=114247731512067250' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114247731512067250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/114247731512067250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2006/03/sepok.html' title='Sepok'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13658252.post-111873428772294930</id><published>2005-06-14T00:23:00.000-07:00</published><updated>2006-03-15T19:38:55.826-08:00</updated><title type='text'>Percak Burok</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/1600/OCEAN-OF-SORROW.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5369/1209/200/OCEAN-OF-SORROW.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Percak Burok&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; merupakan ungkapan khas orang Melayu Pontianak yang bermakna amat luas. Secara individual, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;percak &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;berarti kain pel atau kain perca, sementara &lt;strong&gt;&lt;em&gt;burok &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;berarti jelek atau buruk. Secara harfiah, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;percak burok&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dipergunakan untuk menyatakan sesuatu yang jelek atau sunguh teramat sangat jelek atau &lt;em&gt;&lt;strong&gt;terok&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Acap kali, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;percak burok&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;digunakan untuk mengkonotasikan seseorang yang tak berguna. Pun, seseorang hendak menyatakan kekasalan pada seseorang lainnya, tak jarang percak buroklah yang menjadi sasarannya.&lt;br /&gt;Padahal, sejatinya, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Percak Burok&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;memiliki banyak kegunaan, yang kerap kali sangat berarti bagi kita. Tanpa barang ini, tentunya tak akan pula dikenal percak bagos atau percak setengah pakai.&lt;br /&gt;Kini, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;bende &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;yang bernama &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;Percak burok &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;mengalami ketergusuran. Fungsinya pun telah banyak digantikan oleh barang-barang lain, yang lebih mahal, tak ramah lingkungan dan bukan produk hasil &lt;em&gt;&lt;strong&gt;kampong sorang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Banyak dari &lt;em&gt;&lt;strong&gt;kite &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;yang telah menyingkirkannya dengan menggunakan: &lt;u&gt;&lt;strong&gt;spoon&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;, &lt;strong&gt;&lt;u&gt;kanebo&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;, bahkan &lt;u&gt;&lt;strong&gt;vacum cleaner&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;Tak hanya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;bende-nye &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;yang tergusur, pemakaian katanya jua telah tak lagi kerap terdengar. Anak-anak muda Pontianak (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;kalo dolo' &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;lebih sering &lt;strong&gt;&lt;em&gt;disebot Budak-budak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;), kini lebih bangga menggunakan kalimat lain, yang diserap dari tanah betawi atau bahasa asing (inggris). Mungkin ini yang namanya globalisasi. Tapi kan, tak ade salahnya tetap mempertahankan identitas lokal atau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;kampong&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. He he he he&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13658252-111873428772294930?l=percakburok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://percakburok.blogspot.com/feeds/111873428772294930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13658252&amp;postID=111873428772294930' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/111873428772294930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13658252/posts/default/111873428772294930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://percakburok.blogspot.com/2005/06/percak-burok.html' title='Percak Burok'/><author><name>Pahrian Siregar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17525290145797062171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://bp0.blogger.com/_Clz8SN2ZOu0/R-SszxsvpVI/AAAAAAAAAB8/HBAYh3pxEFo/S220/7.+Indonesia_Aceh_Singkil_Feb+18,+08+084_Patrick+Smith.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry></feed>
