Sunday, February 08, 2009

Ngaret

Libur yang cukup panjang di akhir tahun membuatku leluasa untuk pulang ke kampung halaman di Pontianak.Tak banyak yang berubah memang, namun bagiku ada sebuah sejarah baru yang patut dikenang. Sejarah itu adalah untuk pertama kalinya dilantik sepasangan pemimpin kota yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Uniknya, walaupun dapat dikatakan pasangan incumbent karena walikota terpilih adalah ex wakil walikota pada periode sebelumnya, sedangkan wakil walikota terpilih merupakan seorang yang beretnis Madura. Bagiku ini merupakan pengakuan politis akan eksistensi etnis yang sudah sedari dulu menjadi bagian dari masyarakat Kalimantan Barat.

Sedikit menyesal diriku karena tidak dapat hadir dalam acara pelantikan, padahal walaupun sudah selama 3 tahun terakhir berada di perantauan, ternyata aku masih dapat undangan resmi untuk mengikuti acara ini. Jika saja aku datang dua hari lebih awal tentunya bisa kuhadiri acara yang bersejarah tersebut.

Berdasarkan beberapa catatan para peneliti, masyarakat Madura sudah sejak awal abad ke-20 bermigrasi ke Kalimantan Barat. Umumnya mereka bekerja di sektor informal, yang tidak terlalu mempersyaratkan pendidikan tertentu. Mulai dari tukang becak, sopir, pedagang pasar, pengumpul barang bekas, hingga pedagang sayur keliling di pemukiman penduduk, merupakan pekerjaan yang didominasi etnis yang terkenal beretos kerja luar biasa ini.

Interaksiku tergolong cukup dekat dengan kelompok etnis ini. Maklum saja, di semua tempatku bermukim sedari kecil, selalu saja berdekatan dengan getho-nya atau kalau orang kampungku bilang lubok-nye pendatang Madura. Sedari diriku lahir hingga akhir sekolah menengah pertama, keluargaku bermukim di Asrama Hidayat, yang tepat bertetangga dengan Gang Candi Agung di Jalan Tani (sekarang lebih dikenal sebagai Jalan Putri Dara Hitam). Setelah itu hingga saat ini, rumah orang tuaku berada di Jalan Danau Sentarum di kawasan Sumur Bor, yang juga telah sejak berhenti operasinya perkebunan karet milik Belanda diawal kemerdekaan menjadi kawasan pemukiman kelompok pendatang Madura dari Bangkalan.

Nah, saat remajaku di Sumur Bor ini intensitas pergaulanku dengan masyarakat pendatang dari pulau penghasil garam ini dapat dikatakan sangatlah erat. Wajarlah karena di gangku saat itu hanya dua keluarga saja yang beretnis selain Madura. Walaupun tak fasih melafaskannya, namun dapatlah dikatakan sangat baik aku dalam memahami bahasa etnis ini. Hari-hariku dulu seringkali dihabiskan untuk menemani teman-teman sebaya ngaret (menyabit dengan menggunakan arit) rumput untuk sapi peliharaan keluarga mereka. Saat itu hampir semua keluarga Madura yang bermukim di sekitar rumahku menjadi pemelihara sapi potong, baik sapi yang mereka miliki sendiri maupun sapi titipan orang lain untuk mereka pelihara. Sapi-sapi muda didatangkan dari Jawa atau Madura dengan menggunakan kapal kayu, untuk selanjutnya dipelihara hingga siap potong oleh peternak di sekitar Pontianak. Barulah kemudian sapi-sapi siap potong itu dibawa ke daerah-daerah di pedalaman Kalbar untuk dikonsumsi. Nah, begitulah supply chain dari sapi potong di Kalbar pada masa itu dan posisi penting para peternak sapi di sekitar rumahku dalam supply chain tersebut.

Merupakan pemandangan yang jamak saat itu melihat rombongan para pengarit rumput mengangkut karung-karung berisi rumput dengan menggunakan sepeda jengki. Istilah yang populer pada waktu itu untuk rombongan ini adalah bongar atau bocah ngaret.
Kelompok bongar ini dulu amat mudah ditemui saat pagi ataupun sore hari, yang merupakan saat-saat mereka berburu rumput, di sekitar kota baru, sumur bor, sepakat hingga ke arah pal.

Namun kini, kuperhatikan tak lagi banyak terlihat. Usaha pemeliharaan sapi tampaknya sudah tak lah terlampau menguntungkan dan tak menarik untuk diusahakan. Selain karena tuntutan pertumbuhan kota, mengakibatkan banyak areal berumput yang telah berubah fungsi menjadi pemukiman. Sehingga mereka kesulitan mencari pasok pakan bagi ternak tersebut.
Kuperhatikan, banyak teman-temanku dulu yang setiap pagi dan sore menghabiskan waktunya buat mengarit, kini tak tampak lagi memelihara sapi. Mereka kini lebih memilih menjadi buruh bangunan atau kerja di sektor informal lainnya. Jadi, bisalah diduga kemudian, jika semakin hari para rombongan bongar akan semakin jarang terlihat penampakannya. Yah, mudah-mudahan transformasi ini menjadi lebih baik.

Sunday, December 14, 2008

Gaya Rambut Dwifungsi

Agak lebat hujan siang itu melanda Tarutung, tempat kubekerja hampir satu tahun terakhir. Ah, tiba-tiba saja bosan mendatangiku yang sedari pagi hanya terpaku di depan komputer. Tak sengaja terpegang rambutku, sudah cukup panjang rasanya. Maklum saja, sejak terasa cukup banyak rambut yang gugur kala bangun pagi ataupun mandi beberapa tahun belakangan, lebih senang aku memangkasnya cepak. Hitung-hitung penghematan juga buat beli sampo.

Berniat mengusir jenuh itu, kusempatkan diri untuk bercukur. Pilihanku jatuh ke sebuah rumah pangkas sederhana yang terletak hanya 10 pintu dari kantorku. Sudah cukup lama rasanya aku tak bercukur di kios cukur sejenis. Akhir-akhir ini aku lebih sering bercukur di salon frenchise di pusat perbelanjaan, seperti: Johni Andrean, Rudi Hadi Suwarno, Lutuye dll. Bukan kenapa, bercukur di salon jenis franchise ini lebih praktis buatku sekarang. Selain mudah dijumpai di pusat perbelanjaan, layanan dengan sekalian cuci rambut juga mempermudahku karena tak harus bergatal-gatal ria akibat sisa rambut.

Peralatan, lay out ruang dengan kaca-kaca lebar di dua sisi, kursi cukur yang diatur manual dan tampang tukang cukur yang klimis, mengingatkanku tempat cukur langganan di masa kecil di kota kelahiranku.

Saat-saat diajak papaku bercukur dulu merupakan agenda rutin bulanan yang selalu kutunggu dan sekaligus kukhawatir. Kutunggu, karena biasanya sehabis itu, kami pasti mampir ke tempat makan istimewa atau sekurangnya membeli goreng pisang atau roti tawar buat mama dan kakakku yang tidak turut serta. Sementara khawatir, karena pasti hasil pangkasnya tak seperti yang kuharapkan.

Sebuah kios cukur di sekitar Kawasan Kapuas Indah, terminal utama angkutan kota atau oplet di Pontianak pada masa itu, merupakan tempat favorit yang akan kami kunjungi untuk melakukan ritual ini. Kawasan Kapuas Indah pada masa itu luar biasa ramainya. Maklum oplet ke seluruh tujuan akan berhenti di sana, apalah lagi jenis transportasi ini masih menjadi primadona. Selain pada masa itu penyeberangan feri, yang pelabuhannya terletak berdekatan dengan kawasan ini, masih sangat vital menjadi penghubung dua bagian kota yang dibelah Sungai Kapuas. Kapuas Indah Plaza pun masih menjadi pusat perbelanjaan utama di kotaku. Tidak seperti saat ini, yang bak kerakap, hidup segan namun matipun tak jua mau. Kawasan ini kini menjadi kawasan yang cukup kumuh dan mengkhawatirkan keamanannya. Padahal dulu, bayangkan saja, saat pertama kali dibuka, tangga berjalan plaza yang merupakan yang pertama di Kalimantan Barat ini, hanya beroperasi tidak lebih dari 2 minggu. Tangga berjalan ini rusak akibat kelebihan penumpang. Ribuan orang dari penjuru kota dan daerah lain di Kalbar antusias mengunjunginya.

Kekhawatiranku saat bercukur sebenarnya ungkapan yang terlampau optimis. Setiap ritual bercukur tiba, asaku selalu kulambungkan, yakni bisa menentukan sendiri model rambutku. Padahal, asaku itu taklah akan pernah terjadi. Maklum saja karena profesinya sebagai seorang tentara, papaku selalu menentukan jenis pangkas buatku. Modelnya pun selalu tetap, yakni model 3-2-1, maksudnya 3 di bagian muka, 2 di bagian samping dan satu di bagian belakang. Selalu saja proposalku untuk mengganti model lain tak akan digubris papaku. Hal ini tak hanya terjadi pada diriku saja, hampir semua teman-temanku di Tangsi Militer (Asrama Hidayat di Sungai Bangkong) tempatku tinggal mengalami hal serupa. Kami hanya dapat berkeluh kesah bersama-sama dan mengerutu meratapi perlakuan orang tua kami itu.

Aku dan teman-teman masa kecilku di Tangsi Militer menjuluki model ini sebagai model Dwifungsi, seperti dokrin militer yang populer diindokrinasikan oleh rezim Suharto saat itu. Karena bagian depan bisa dipergunakan sebagai kuas dan bagian belakang bermanfaat untuk jadi parutan. Jika ada teman yang sedang jadi korban model ini, kami akan sama-sama mentertawainya. Sebaliknya, jika sedang menjadi korban, hanya cengiran kesal lah yang bisa diperbuat. Itulah nasib menjadi anak kolong.

Seingatku aku baru terbebas dari model ini saat sudah di bangku SLTA, itupun karena ada teman sekolah yang piawai mencukur. Jadi bisa dimintakan tolong untuk mencukurkan rambutku. Senang sekali rasanya waktu pertama kali bisa terbebas dari model rambut ini.

Tiba-tiba saja terlintas dipikirku, bagaimana nasib anak-anak militer sekarang, apakah mereka masih mengalami nasib yang sama dengan kami dulu. Mudah-mudahan saja tidak dan pendapat ataupun keinginan mereka sudah dapat diakomodasi oleh para orang tua mereka. Masak sih, dwifungsi ABRI saja dapat direposisi, sementara model rambut dwifungsi tidak.

Saturday, October 11, 2008

Sekolah Dasar Muhammadiyah Dua di Sentiong

Antian panjang memenuhi loket penjualan tiket masuk bioskop Premium di Detos (Depok Town Square) pada hari-hari akhir Ramadan tahun ini. Pemutan perdana film Laskar Pelangi yang diinterpretasikan dari sebuah buku popular yang berjudul sama, merupakan penyebabnya. Padahal, pemutaran perdana ini dilakukan serentak di seluruh Nusantara pada dua jaringan bioskop utama, yakni Premium dan Studio 21. Antusiasme penonton tetap saja sangat luar biasa, entah penggemar sejati Andrea Hirata, sang pengarang buku, atau mereka yang hanya sekedar takut dikatakan kurang gaul, semua tumplek menyambangi bioskop untuk menontonnya. Wajar, jika beberapa waktu kemudian, sebuah media nasional melaporkan dalam kurang dari sebulan, film ini sudah mampu menyerap 1.5 juta penonton. Saat giat-giatnya film ini melakukan promosi beberapa waktu sebelum penanyangan perdana, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Terpengaruh ingin melihat sejauh mana Riri Reza, sang sutradara, menginterpertasikan pengalaman si penulis yang sangat menginspirasi ini, tak mampu membendung keinginanku menontonnya di hari pemutaran perdana itu. Aku dan istriku beruntung karena masih mendapatkan tiket untuk pemutaran yang hanya berselisih 30 menit dari kehadiran kami ke pusat perbelanjaan itu, dan akan berakhir menjelang buka puasa. Lumayan, hitung-hitung ngabuburit lah, menantikan buka puasa tiba.

Cukup terkesan aku dengan para sinease yang bekerja menggarap film ini. Acungan jempol adalah sebuah yang wajar disampaikan pada mereka. Kekhawatiranku, pesan-pesan yang ada dalam buku itu tidak mampu tersampaikan ternyata tak terjadi. Lega rasanya, karena rasa kecewa seperti saat menonton film Gie, yang digarap oleh sutradara yang sama, tidak terjadi.

Sehabis menonton film ini, aku mengingat kembali sekolah dasarku dulu di kampung halaman. Bukan hanya karena sekolahku pun memiliki nama yang serupa dengan sekolah di film itu, yakni SD Muhammadiyah, namun adanya kesamaan lain yang bisa kutarik, jadi pembelajaran guna memajukan pendidikan di negeri ini. Memang banyak yang tak serupa dengan cerita film ini, tapi setidaknya ada sebuah semangat yang sama yakni semangat para guruku dahulu yang tak kalah hebatnya dengan Ibu Maemonah Muslihah dan pamannya dalam film itu, dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas pada kami para muridnya.

Di akhir 1970-an, hampir dapat dikatakan di kampung halamanku, Pontianak, pendidikan dasar sangat didominasi oleh lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan katolik dan kristen. Sekolah-sekolah seperti SD Imanuel, SD Karya Yosef, SD Gembala Baik, SD Budi Baik, SD Susteran dan SD Bruderan menjadi sekolah favorit. Hampir semua perlombaan di tingkat SD pada waktu itu didominasi oleh sekolah-sekolah tersebut. Memang ada beberapa sekolah negeri yang cukup mampu mencuri perhatian, seperti: SD 1 di belakang Gedung Arena Remaja, SD 3 di Gang Padi, SD 26 di Jalan Tamar ataupun SD 29 di Jalan Podomoro. Sementara sekolah-sekolah berbasis yayasan islam agak kurang diminati, banyak keluarga yang berlatar belakang islam yang memilih menyekolahkan anaknya ke persekolahan yang dikelola yayasan non islam, demi untuk memberikan pendidikan yang terbaik buat si anak. Hal ini juga terjadi pada ayahku, yang kurang menanggapi saat ditawari oleh seorang temannya untuk menyekolahku ke SD Muhammadiyah 2, sekolah yang kemudian menjadi tempatku memperoleh pendidikan dasar. Pikiran ayahku berubah ketika di hari-hari terakhir sebelum pendaftaran SD berakhir, ia bertemu dengan almarhum Pak Burhan, kepala sekolah sekolahku pada waktu itu, di mesjid dekat rumah kami. Beliaulah yang mempertebal keyakinan ayahku untuk merelakan aku bersekolah ke SD tersebut, yang baru memiliki 3 angkatan, yang secara kualitas masihlah belum terjamin dan butuh diuji.

Dua tahun pertama sekolahku yang berlokasi di Sentiong, sebuah kawasan yang belum dikembangkan di kota Pontianak pada waktu itu, hanya memiliki empat lokal kelas. Pak Burhan yang merupakan guru paling senior di sekolah ini, seingatku termasuk kelompok alumni sekolah guru di Sumatera Barat yang dikirim ke Kalimantan untuk mensyiarkan pendidikan dan bertahan menjadi guru di pulau ini hingga akhir hayatnya. Pada masa-masa awal, beliau masih dibantu oleh beberapa guru-guru muda, yang beberapa adalah baru menyelesaikan SPG (sekolah pendidikan guru), SGO (sekolah guru olahraga) ataupun PGA (pendidikan guru agama), dan sembari mengambil kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Tanjungpura, seperti: Pak Waslie Syafi’e, Pak Wahaini, Bu Siti, dan Bu Zulfa. Sebagian besar mereka adalah guru berstatus pegawai negeri yang diperbantukan ke sekolahku. Pada masa ini, uang sekolahnya masih sangat rendah dan beberapa kawan sekelasku menjalani pendidikan secara gratis, karena mereka adalah penghuni Panti Asuhan ‘Ahmad Yani’ yang terletak dekat dengan sekolah tersebut.

Sekolahku cukup beruntung, karena pada kurun waktu yang bersamaan, kawasan dimana sekolah ini berada mengalami pembangunan. Beberapa fasilitas penting pemerintahan di bangun di sekitarnya, seperti: Mesjid Raya Mujahidin, komplek pemukiman pegawai pemerintah provinsi Kalimantan Barat, dll. Dalam waktu yang cepat, dari kawasan yang dahulu sering diistilahkan ‘tempat jin buang anak’ (wajar karena kawasan ini dahulunya adalah kompleks pekuburan Cina atau Sentiong dan dari situlah namanya berasal) berubah menjadi kawasan elit. Imbasnya, sekolahku kemudian pun banyak pula memperoleh tambahan murid-murid baru yang pindah dari sekolah lainnya. Semakin banyaknya kelas dan murid yang harus diajar, di masa aku berada di kelas 3 atau 4, sekolahku merekrut beberapa guru tambahan, yang juga seperti sebelumnya masih berstatus mahasiswa, seperti: Pak Suprianto Agus, Pak Hatta, Pak Adnan M. Zain, dan guru senior yang diperbantukan, seperti: Pak Was’ie. Tumpuk pimpinan sekolah juga kemudian berganti, seiring dengan menurunnya kesehatan Pak Burhan, kepada Pak Waslie Syafi’e.

Para guruku itu memberi pengajaran dengan sepenuh hati mereka pada kami. Padahal, sebagai guru yang juga mahasiswa, tentunya tekanan ekonomi dan pekerjaan amatlah berat mereka rasakan. Di masa itu, hampir semua guruku pergi mengajar dengan menggunakan sepeda. Angkutan kota yang masih jarang tentunya tidak memadai untuk mobilitas mereka pada waktu itu. Jika pun ada yang sudah memiliki sepeda motor, sepeda motor yang mereka gunakan adalah sepeda motor yang sudah berumur. Belum jamak pada masa itu, keberadaan lembaga-lembaga pemberi tambahan belajar pada para siswa, seperti yang saat ini menjamur. Beberapa teman yang kurang bisa mengikuti pembelajaran di kelas, sering diberikan bimbingan pengajaran seusai sekolah oleh para guruku. Tentunya tetap dengan tanpa dipungut biaya. Keinginan memberikan pendidikan terbaik pada kami para muridnya, menjadi motivasi khusus pada kami untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Rasa kekeluargaan di antara kami pun sangat erat. Sering kali dilakukan pertemuan keakraban di rumah kontrakan salah seorang guru kami, yang biasanya sembari menikmati hidangan bubur padas, makanan khas Melayu Sambas.

Mimpi menjadi yang terbaik bukanlah mimpi para pengajar semata, para pelajar pun mempunyai keinginan yang serupa. Hingga saat ini masih sering terngiang ditelingaku, sebuah tantangan yang berulang-ulang kali diucapkan oleh Pak Burhan ataupun Pak Waslie saat upacara bendera atau kesempatan lainnya kepada kami para muridnya di generasi awal, “Mari kita tunjukkan bahwa sekolah Muhammadiyah ini adalah sekolah terbaik dan murid-murid di sekolah ini mampu menunjukkan kualitasnya sebagai murid dari sekolah yang terbaik dan menjadi suritauladan bagi orang lain.” Tantangan ini selalu memotivasi para muridnya, untuk merajai perlombaan-perlombaan pendidikan antar sekolah yang kami ikuti. Sudah bukan rahasia umum, jika pada rentang 1980 hingga 1990-an, lomba-lomba bidang studi dan cerdas cermat di tingkat daerah selalu dirajai oleh wakil dari sekolahku. Bahkan pada 1987, sekolahku menjadi juara cerdas cermat nasional yang disiarkan oleh TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu. Pada era itu pun, selalu tertera nama murid dari sekolah ini yang berprestasi memperoleh nilai tertinggi untuk bidang studi tertentu maupun keseluruhan dari evaluasi akhir siswa setiap tahunnya.

Sayangnya, laiknya sebuah komoditas di pasar, untuk memperoleh kualitas yang bagus dan menjanjikan, pengorbanan atau biaya yang diberikan juga harus setimpal besarnya. Kemudian sekolahku pun mulai berubah menjadi sekolah bagi kelompok elit semata. Uang sekolah dan pendaftaran melambung tinggi, menjadi penapis awal bagi siapa yang berhak memperoleh jasa pendidikan di sekolah tersebut. Belum lagi pembebanan kurikulum yang berat dan keinginan mempertahankan image-nya, membuat sekolah itu tampak seperti mesin yang bekerja terus di waktu produksinya. Pagi hingga siang untuk pengajaran biasa dan sore hingga malam untuk pengajaran tambahan (hmmm.... untunglah aku tidak berada di generasi itu, kalo tidak tentunya kehidupan menjadi anak kampongku pun tidaklah banyak..). Pun, pembangunan infrastruktur sekolah mulai pula dibangun perlahan-lahan, hingga menjadi teramat megah dan terkesan tak ramah lagi akhir 1990-an.

Kini, dengan hadirnya beberapa sekolah waralaba nasional, seperti: Al Azhar, ataupun sekolah berkurikulum internasional, seperti: Bina Mulia dan Tunas Bangsa, kabarnya sekolahku berangsur-angsur menurun peminatnya. Sekolah-sekolah itu hadir dengan menawarkan fasilitas yang jauh lebih baik dan adopsi kurikulum internasional yang lebih menjanjikan. Nama besar dan prestasi hebat di masa lalu sekolahku, rupanya tak mampu menjadi menambat hati para orang tua murid untuk menjadikannya pilihan utama buat si anak. Hematku, kenapa tidak kembali lagi ke basis awal di masa awal berdirinya, yang dengan segala keterbatasan mampu menjadi lembaga pendidikan terbaik, dimana modal utamanya adalah kesadaran bersama untuk menjadi yang terbaik!

Thursday, April 24, 2008

Cik Cik Periok

Cik cik periok belanga sumbing dari Jawe
Datang nek kecibong bawa piting dua ekok

Cak cak bom dalam bilanga idung picak gigi rongak
Siape ketawa dolo dipancung raja tunggak

Begitulah bait nyanyian tradisional yang didendangkan anakku beberapa waktu yang lalu saat kutelpon dia. Keterpisahan tinggal aku dan dia terkadang mengalirkan rindu pada diriku, pun kuyakin pada dirinya. Walaupun tak setara dengan perjumpaan dengan dia, bertelepon dengannya terkadang cukuplah menjadi penentram hati, yang juga sekaligus menambah rasa rinduku.

Lagu rakyat (folk song) khas Kalimantan Barat itu dinyanyikannya, karena beberapa waktu belakangan dia sedang mengikuti kursus menari. Dan tari yang dipraktekannya berlagu latar nyanyian tersebut. Rasanya tak sabar aku melihat anakku ini menari dihadapanku. Aku sudah kehilangan satu kesempatan melihatnya menyanyi ’layang-layang’ di sebuah mal di Pontianak beberapa bulan yang lalu. Keberaniannya tampil di publik sangat mengagumkanku, jika mengingat dia dulu cukup pemalu sewaktu baru berusia sangat belia. Kuacungkan dua jempol pada sekolahnya yang mampu menghadirkan rasa percaya diri padanya. Kalau kubandingkan dengan diriku dulu, tentunya jauh sekali. Hingga sekolah menengah atas, tak lah berani aku maju di depan kelas. Lututku rasanya lemas, badanku kaku, mulutku serasa terkunci dan perut terasa mual. Mungkin orang tak akan percaya dengan hal ini. Kini, rasa demam panggung itu sudah berhasil ku atasi.

Mengenang nyanyian itu, aku teringat sebuah diskusi kecil dengan beberapa orang teman di Yogyakarta pada pertengahan 90-an. Saat itu, seingatku ada sebuah lokakarya pembangunan Kalbar yang diselenggarakan Forum Paska Sarjana KPMKB (Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat), yang pada masa itu dikomandani Rektor Universitas Tanjungpura saat ini, DR. Khairil Effendi (Bang Aye). Diskusi kecil itu dilakukan disela-sela acara tersebut. Dalam diskusi ini, ada seorang teman (yang kalo tidak salah sedang mengambil program paska di UGM dan berasal dari Putussibau, hanya yang pasti kuterlupa namanya) yang melemparkan tesis nyanyian tersebut bukanlah hanya sekedar rangkaian kata-kata semata. Namun merupakan nyanyian yang bermakna ramalan dari nenek moyang masyarakat Kalbar menyangkut kondisi masyarakat Kalbar pada suatu masa. Aku dan beberapa teman yang mengikuti diskusi swasta itu cukup tercengang dan tersentak dengan tesisnya tersebut.

Menurutnya, pada bait pertama menggambarkan pada suatu masa tersebut akan datang banyak orang yang termarginalkan (orang-orang kalah) di Jawa ke Kalbar (Cik cik periok belanga sumbing dari Jawe) dan akan terjadi pengambilan sumber daya alam secara besar-besaran (Datang nek kecibong bawa piting dua ekok). Sementara pada bait kedua menggambarkan siapa yang menentang akan dilakukan penekanan (Cak cak bom dalam bilanga idung picak gigi rongak) dan yang berani protes akan dilakukan pembinasaan oleh penguasa yang lalim (Siape ketawa dolo dipancung raja tunggak).

Aku dan beberapa teman-teman yang masih menuntut ilmu di beberapa perguruan tinggi di Jawa waktu itu, langsung mencoba melihat realita yang terjadi pada saat itu. Rasanya, kondisi tersebut cukup mengena dengan kondisi saat itu, dimana Orde Baru sedang di masa kejayaannya, transmigrasi (yang hampir sebagian besar dari Jawa) sedang galak-galaknya dilakukan, HPH sedang leluasa melakukan perusakan hutan di Kalbar, trawl sedang hebat-hebatnya menggusuri daerah tangkap nelayan tradisional dan pendekatan keamanan menjadi senjata handal meredam kelompok pro demokrasi. Betul, pada masa itu, Kalbar sedang menjadi etalase paling berhasil dari rezim pada masa itu. Masyarakat Kalbar hanya menjadi penonton dari segenap perusakan dan ketidakadilan yang menimpa dirinya dan generasi penerusnya.

Ah, cukup berhasil rasanya, provokasi yang disampaikan teman ini. Diskusi swasta ini kurasakan jauh lebih bernilai dibandingkan diskusi resmi yang dilakukan, yang hanya menampilkan segepok rencana-rencana dan teori-teori yang jauh dari realita dan kebutuhan. Kini, pertanyaanku apakah ramalan dari nyanyian ini sudah berhenti pada dengan berakhirnya rezim Orde Baru, ataukah masih berlanjut? Atau mungkin ada cerita lisan (folk story) dan nyanyian rakyat (folk song) lain yang menggambarkan kondisi Kalbar saat ini dan masa yang akan datang?

Sunday, March 30, 2008

Mbelet




Pada awal April mendatang, basis penugasanku akan berpindah dari Medan ke Tarutung, sebuah kota cantik di Tapanuli. Untuk hampir selama hampir tiga bulan terakhir, aku berkantor di Medan dengan intensitas perjalanan yang cukup tinggi ke Tapanuli. Cukup melelahkan memang. Pilihan pindah basis akan sangat membantuku mengurangi waktu perjalanan. Maklum lah, medan perjalanan di sini sangat berat bagiku, yang dibesarkan dan lebih akrab dengan alam di pesisir barat Kalimantan yang cenderung lebih datar. Sudah beberapa kali terlampaui ‘boiling point’ perutku, yang terkadang amat menganggu perjalanan.


Kantorku di Medan terletak sangat strategis, karena kesangatstrategisnya ini, terkadang sangat banyak keistimewaan yang diperoleh. Jika di mana-mana di Sumatera bagian Utara mengalami krisis kelistrikan dan di mana-mana di Kota Medan mengalami krisis penyediaan air bersih, kantorku dan para tetangganya tak sedikitpun mengalaminya. Tak adil rasanya.Pertama kali berkeliling di sekitar lingkungan kantorku, muncul pertanyaan di benakku, apa gerangan kerja beberapa tetangga yang ada di sekitar kantorku itu. Rumah-rumah mereka berukuran istana dan tanpa mempertimbangkan rasio penghuni, dengan pagar menjangkau langit dan berkamera di beberapa sudut rumah. Gilanya lagi, beberapa kendaraan ‘super mewah’ keluar masuk ke rumah-rumah tersebut. Ini Medan Bung! Bah, biarlah, suka-suka mereka saja memamerkan kemewahan. Toh, kalo kecemburuan semakin meruncing, mereka juga yang akan kena dampaknya kan.


Ada sebuah tempat di dekat kantorku yang amat menarik perhatianku, yakni tempat yang di sebut warkop harapan. Beragam makanan di jual di warung-warung kecil yang tumbuh bertautan di pinggir jalan. Jadi, jangan salah kaprah dengan penggunaan warkop, yang lebih kerap digunakan untuk warung yang menjual kopi dan teh semata. Hebatnya lagi warkop ini beroperasi 24 jam. Bagiku sangat membantu saat terpaksa harus berlembur ria menggejar tenggat kerjaan.


Di siang hari, di beberapa sudut tempat ini dapat dengan mudah kita jumpai para pelajar yang membolos dari pelajaran di sekolahnya. Ah, ingatanku kembali mengenang masa di bangku SMA di akhir 80-an. Membolos atau istilah kampungku dulu mbelet, merupakan sebuah kenakalan jamak dalam menunjukkan eksistensi diriku dan teman-temanku. Walaupun tak sering kali kami lakukan, tapi mbelet menjadi selingan membunuh kejenuhan ketidakkreatifan guru-guru kami dulu.


Selain bersembunyi di rumah teman yang orang tuanya sedang tak berada di rumah, ada tempat favorit lain yang sering kami jadikan tempat mbelet, yakni kantin Bu Juju, yang ada di depan SMP 3 di Jalan Kalimantan. Dulu kantin ini masihlah kantin yang sangat sederhana dan hanya buka saat jam sekolah istirahat. Tempatnya cukup terlindung dan pengelola kantin tak pernah hirau dengan kelakuan kami. Bukan hanya teman-teman sekolahku di SMA 1 saja yang menjadikannya tempat mbelet, kerap kali di tempat ini kujumpai teman-teman dari sekolah lain, seperti: SMA 3, SMA 8 (sekarang SMUN 7) dan SMTI. Tak heran jika ada gelar istimewa yang kami berikan pada kantin ini, yakni SMA 9.


Kini, kantin ini sudah menjadi sangat populer di sebagian orang Pontianak. Jam operasinya pun sudah lebih panjang. Makanan yang dijual tak lagi hanya bakwan (yang dulu merupakan makanan favorit kantin ini) dan sudah amat beragam. Iklan promosi beragam produk sudah mewarnai pojok-pojok kantin, bahkan beberapa even organizer sering menjadikannya tempat penjualan tiket pertunjukan. Banyak pegawai, mahasiswa dan ibu-ibu yang menunggu anaknya bubaran sekolah yang kini menjadikannya titik bertemu menghabiskan waktu. Mungkin sambil mengenang masa lalu mereka dulu waktu suka mbelet di kantin ini.

Friday, February 08, 2008

Maen Kelayang

Sejak pertengahan awal tahun ini, aku kembali melanjutkan perantauan. Setelah hampir 3 (tiga) tahun bermukim di Jakarta, tempat rantauku kali ini adalah Sumatera Utara. Walaupun memang secara genetik, daerah ini merupakan daerah asal kedua orang tuaku, namun baru kali inilah aku harus bermukim lama di daerah ini, setidaknya untuk satu tahun ke depan.


Di hari-hari awal perantauanku, karena masih malas (belum tergerak) untuk bersilaturahmi pada para keluarga orang tuaku. Pun, masih belum pula tertarik mengeksplorasi sudut-sudut Kota Medan, kuhabiskan saja waktu menonton beberapa film bajakan produksi Glodok yang memang kupersiapkan menjadi antisipator pembunuh kejenuhan.


Dari tiga film yang kutonton, salah satu film yang menarik hatiku adalah sebuah film berjudul The Kite Runner. Sebuah film menarik yang berdasarkan sebuah novel dari seorang penulis Afganistan, Khaled Hosseini. Inti cerita film ini adalah persahabatan dua anak manusia yang tak hilang dimakan waktu, jarak, kekerasan akibat perang dan pilihan kehidupan. Tak elok rasanya menceritakan isi film ini, karena hanyalah ¾ film yang dapat kutonton. Sisanya, rusak mungkin akibat burning yang tak sempurna atau kerusakan trek pada cakram DVD-nya. Kesal rasanya, namun dimaklumi sajalah, inilah salah satu resiko membeli film bajakan. Kilasan cerita film ini dapat kiranya dicari melalui Google (dimana salah satu hasil pencariannya: http://www.bamboozled.org/article/368/kite_runner).


Film ini mengembalikan memoriku kembali ke masa kecil, saat masih menjadi penghuni sebuah komplek tentara Asrama Hidayat di Sungai Bangkok, Pontianak. Bermain kelayang (dalam bahasa Indonesia layang-layang atau kelayangan) adalah salah satu permainan favoritku dan teman sebayaku. Walaupun tak pintar memainkan kelayang, mengejar kelayang putus merupakan suatu kegemaranku. Berkejaran di sela-sela barak, dapur umum, WC umum dan jeding (bak penyimpanan air dari semen) serta lapangan, menjadi jamak saat aku dulu berpartisipasi dalam ritual kejar kelayang.


Saat kukenang-kenang permainan kelayang. Muncul kembali lagi beberapa istilah khas permainan ini. Setidaknya, ada lima belas istilah yang muncul dan kucoba mengingat kembali arti atau makna istilah-istilah itu. Ah, mungkin saja ada yang tak pas, sudah setidaknya 25 tahun berlalu. Maklumi saja ya.



  • Anjung : Merupakan langkah persiapan melayangkan kelayang ke angkasa. Saat pemain (pengemudi) kelayang bersiap untuk menaikkan kelayang, biasanya akan meminta seorang teman untuk memegangkan kelayangnya dan maju beberapa langkah. Selanjutnya, sang pemain akan menarik layangan itu dan mengendalikannya agar naik ke angkasa. Aktivitas membantu naiknya layangan ini biasanya disebut meng-anjung-kan layangan.

  • Saok : Kegiatan mencoba mendapatkan kelayang yang putus dengan menangkapnya di udara. Biasanya kelayang yang berperan khusus untuk kegiatan menyaok kelayang disebut penyaok. Untuk mempermudah menyaok, tak jarang kelayang berjenis penyaok akan menambahkan kawat atau diikatkan lidi pada tali kelayangnya.

  • Gelondong : Tempat menyimpan benang (tali) kelayang. Biasanya bagi para profesional pemain kelayang, gelondong ini terbuat dari kayu berdiameter kira-kira 20 cm dengan bagian tengah yang dibolongi ataupun pipa paralon yang dibakar kedua ujungnya dan tak jarang dilengkapi sistem penggulung benang yang canggih. Saat kukecil dulu, aku dan kawan-kawanku lebih sering menggunakan kaleng bekas sebagai gelondong.

  • Tali terajuk : Tali yang menghubungkan bagian tengah dan bagian bawah kelayang. Dari tali inilah baru kemudian kelayang dihubungkan dengan benang kelayang yang berasal dari gelondong.

  • Rambuk : Ekor yang diberikan ke layangan untuk memperindah tampilan layangan. Ada yang membuatnya dari kertas berwarna-warni, namun tak jarang pula yang menggunakan plastik isi kaset video sebagai rambuk.

  • Cap : Tulisan atau motif pada layangan. Tak jarang motif tertentu menjadi milik sekelompok pemain kelayang tertentu pula.

  • Gelasan : Jenis benang layangan yang dilapisi oleh unsur gelas. Ada dua jenis gelasan yang biasa dipergunakan, yakni gelasan mambo (dari benang sejenis benang jahit namun lebih tebal) dan gelasan plastik (dari benang sejenis nilon). Sudah merupakan hal yang jamak, jika campuran pembuatan gelasan menjadi rahasia pembuatnya. Walaupun bahan pembuatnya merupakan campuran dari bahan-bahan umum, seperti: bubuk kaca yang telah ditumbuk, bubuk canai (sejenis batuan granit), pewarna kain, dan lem kayu.

  • Senget : Gerakan kelayang yang gerakannya tidak seimbang, biasanya lebih miring ke kiri atau ke kanan. Untuk mengobati senget ini, biasanya sering diikatkan rumput pada bagian yang kanan atau kiri kelayang, yang bertujuan memperbaiki keseimbangan kelayang.

  • Gedek : Gerakan kelayang yang seimbang, namun bergetar menahan angin. Biasanya untuk memperbaikinya, dilakukan perubahan ukuran tali terajuk.

  • Timpa’ : Adu kelayang yang terbang di udara.

  • Hambur : Teknik bermain kelayang dengan mengulurkan benang kelayang, biasanya tujuannya agar tali layangan menjadi lebih kendur

  • Sentak : Teknik bermain kelayang dengan menarik benang kelayang secara mengejutkan.

  • Embut : Teknik bermain kelayang dengan menarik benang kelayang dengan secepat-cepatnya

  • Belet : Teknik bermain kelayang dengan berusaha membelitkan benang kelayang kita pada benang kelayang lawan saat sedang timpa’ ataupun pada kelayang yang sedang putus agar kelayang itu dapat diambil pada saat menyaok.

  • Sebe (cebe) : Sobek pada bagian kertas kelayang. Agar bisa tetap dimainkan, bagian sobek ini akan ditambal kembali. Nasi biasanya dipergunakan sebagai lem pada kondisi darurat.

  • Putus genting : Putusnya kelayang bukan diakibatkan aktivitas timpa’, melainkan akibat lain, seperti rapuhnya benang atau benang layangan terkena seng rumah. Biasanya, kelayang yang putus genting dapat diminta kembali oleh pemiliknya. Sementara kelayang yang putus akibat timpa’ akan diperebutkan, baik oleh kelayang lainnya dengan cara menyaoknya maupun para pengejar kelayang.

  • Pokok tali: Saat timpa’ ataupun secara tidak sengaja, kejadian dimana kelayang putus karena tidak terkena bagian gelasan, namun pada bagian benang biasa.

  • Gong-gong : Kondisi dimana kelayang yang putus tersangkut pada kelayang lawannya timpa’ ataupun kelayang penyaok yang mencoba menyaoknya.

Thursday, October 18, 2007

Betarek


Di awal puasa yang lalu, kusempatkan diri pulang kembali ke kampong halaman, bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Kepulangan ini kuniatkan menjadi pengganti ketidak pulanganku di saat Idhul Fitri. Tiket yang harganya melambung selangit serta keinginan istriku untuk berlebaran di Jakarta merupakan salah dua penyebab ketidakpulanganku berlebaran tahun ini. Walaupun rindu juga rasanya berlebaran di kampong halaman. Tahun ini akan menjadi tahun kedua berada di rantau orang. Mungkin tahun yang akan datang Yang Maha Kuasa melapangkan rejekiku dan memberikan kesempatan berlebaran kembali di kota tercinta.

Saat melintas di depan Mesjid Mujahidin, kuamati sekilas pelaksanaan rehabilitasi mesjid yang kalau tak salahku didesain oleh Ir. Said Djafar dan diresmikan bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) pada tahun 1980-an. Walaupun belum selesai, sudah mulai tampak perkembangan rehabilitasinya. Kubah baru mesjid ini secara khusus dipesan di Yogyakarta dan harganya pun tergolong fantastis menembus harga milyaran rupiah. Cerita ini kuperoleh seorang kakak kelasku sewaktu SMA dahulu, yang ditunjuk menjadi arsitek rehabilitasi mesjid ini, saat kami berjumpa di Bandara Adisucipto Yogyakarta satu bulan sebelumnya. Mudahan-mudahan saja, rehabilitasi yang cukup mahal ini dapat bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat Kalimantan Barat.

Saat melihat halaman luas yang dimiliki mesjid ini, satu kenangan yang tiba-tiba saja muncul di benakku adalah betarek atau balapan sepeda. Dulu, di pertengahan 1980-an, areal lapangan mesjid ini pernah digelar balapan sepeda BMX yang diikuti oleh anak-anak SD dan SMP. Sebelum kemudian dipindahkan ke areal Stadion Sultan Abdurrahman. Setiap sore banyak anak-anak, tak padang suku dan agama, dari penjuru kota yang bermain sepeda, betarek ataupun hanya sekedar menonton orang lain betarek di halaman mesjid ini. Selain betarek berkeliling lintasan yang ada di halaman mesjid, sering pula diselingi unjuk ketangkasan, seperti: standing (bersepeda dengan roda depan diangkat), jumping (melayangkan sepeda dengan bantuan undakan miring) ataupun angkat dua ban melewati orang yang berbaring, serta trik-trik bersepeda lainnya mengikuti film BMX-Bandit yang populer pada masa itu.

Masa itu, sepeda merupakan kendaraan utama bagi anak SD dan SMP. Masihlah amat jarang melihat anak-anak SD ataupun SMP berkendaraan motor. Bahkan di sekolahku, di SMP Negeri 1 Pontianak, ada aturan larangan bagi muridnya untuk membawa motor ke sekolahan. Aturan demikian ini tampaknya sudah tak berlaku lagi saat ini. Lihat saja di jalanan, banyak sekali anak-anak yang umurnya belum memadai memiliki izin mengemudi yang berseliweran berkendaraan motor. Padahal, kelakuan ini bukan saja membahayakan diri mereka, tapi juga pengguna jalan lainnya.

Nah, salah satu jagoan betarek pada masa itu adalah Maruki Matsum, yang berasal dari 'Geng Bocek' atau singkatan dari Bocah Ekasari, yang merupakan kumpulan anak-anak yang bermukim di sekitar Gang Ekasari-Podomoro. Aksi dan atraksi dari Maruki merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu, tak ubahnya kita saat ini melihat Valentino Rossi beraksi di lintasan MotorGP. Kekuatan, kecepatan, ketahanan dan napasnya yang tak ada habisnya menjadikan Maruki menjadi raja dalam setiap gelaran. Karirnya Maruki bersepeda tak hanya terputus di arena betarek saja, juara Pekan Olah Raga Nasional dan SEA Games pun pernah diraihnya dikemudian hari, mengikuti jejak pendahulunya Johnny Van Aert. Pada era 1980-1990-an, pembalap Kalimantan Barat menjadi langganan juara dalam gelaran nasional dan amat disegani. Namun kini, masih ndak ye?